BAGIKAN
Credit: Logan Weaver by Unsplash

Ada satu angka penting dimasa pandemi ini yang berpengaruh pada banyak orang di seluruh dunia, yaitu angka reproduksi virus, yang disingkat dengan R.

Untuk penyakit-penyakit infeksi seperti COVID-19, R menentukan seberapa besar seseorang dapat tertular dari setiap orang yang telah terinfeksi virus. Dan untuk bisa mengalahkan pathogen seperti virus SARS-CoV-2, angka R harus kurang dari 1, artinya setiap orang akan menyebarkan infeksi pada kurang dari satu orang lainnya, dan menunjukkan orang yang terinfeksi di suatu wilayah terus berkurang. Sebaliknya, nilai R yang lebih dari 1 menunjukkan penyebaran virus terus meningkat.

Sebuah penelitian terbaru yang hasilnya telah dipublikasikan dalam JAMA Network Open, dipimpin oleh dokter anak David Rubin dari the Children’s Hospital of Philadelphia menunjukkan pada kita perspektif paling lengkap dan jelas tentang nilai R ini berdasarkan data pooling dari 211 negara bagian di AS, yang mencakup 54 persen dari keseluruhan populasi di AS.



“Dengan meyakinkan, didapatkan faktor paling kuat pada model kami yang menurunkan angka penularan virus, yaitu social distancing,” kata Rubin.

Para peneliti berusaha untuk memahami faktor apa saja yang paling mempengaruhi angka R di suatu wilayah, yang didasarkan pada waktu dan tempat. Dalam penelitian ini, tim peneliti melihat data dari tanggal 25 Februari hingga 23 April 2020, mereka secara khusus melihat pengaruh dari 3 variabel potensial pada angka R: sosial distancing, kepadatan populasi, dan temperatur.

Seperti yang kita semua ketahui, langkah social distancing cukup efektif untuk menahan penyebaran virus corona dengan membatasi kontak antara orang-orang yang terinfeksi dengan orang-orang yang belum terinfeksi. Begitu juga dengan kepadatan populasi sebuah wilayah, merupakan faktor penting dalam menekan penyebaran virus, dimana semakin besar kepadatan suatu wilayah (yang membatasi keleluasaan melakukan langkah social distancing), semakin besar kemungkinan terjadinya penularan dalam populasi.

Pengaruh faktor cuaca pada penyebaran virus corona juga masih belum diketahui dengan pasti. Selama ini diduga naiknya temperatur dan kelembaban berpengaruh pada tingkat penyebaran virus, tetapi bukti-bukti yang didapatkan masih meragukan.

Dalam sebuah penelitian terbaru, langkah sosial distancing yang diukur berdasarkan data mobilitas lokasi penduduk di suatu wilayah, memperkirakan tingkat perjalanan yang tidak penting selama pandemi dibandingkan dengan masa sebelum pandemi.

Secara rata-rata, para peneliti menemukan bahwa terjadi penurunan hingga 50 persen kegiatan bepergian yang tidak perlu, dikorelasikan dengan penurunan angka R hingga 46 persen, dan penurunan kegiatan bepergian hingga 46 persen dikorelasikan dengan turunnya angka R hingga 60 persen.

Semakin besar tingkat kepadatan populasi, juga berkorelasi dengan sedikit meningkatkan angka R. Faktor cuaca juga ternyata memberikan pengaruh yang sama, walaupun masih terlihat samar: temperatur bola basah (temperatur udara yang diukur dengan menutup bagian bawah termometer (bulb) dengan kain basah) yang tertinggi dan terendah, keduanya berpengaruh pada angka R yang tinggi. Dan pada temperatur udara sedang atau hangat, dikorelasikan dengan angka R terendah.



Dan secara keseluruhan, para peneliti menyimpulkan bahwa langkah social distancing memberikan pengaruh paling besar dalam menurunkan resiko penularan virus corona. Dan karena hanya didasarkan pada dari pengamatan semata, maka para peneliti tidak dapat memastikan apakah hasil penelitian ini sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi, tetapi dapat dijadikan panduan menentukan langkah-langkah yang mungkin dilakukan untuk menekan angka R pada populasi.

“Data kami mengungkap bahwa jika Amerika Serikat bisa mempertahankan langkah social distancing, mengurangi jumlah orang yang berkumpul dalam satu ruangan, mungkin angka kasus baru dapat terus berkurang, seperti yang terjadi di Eropa atau Kanada,” kata Rubin dalam press released.

“Dan hingga kini pandemi masih berlangsung, kita harus terus berkomitmen dalam langkah social distancing dan terus memasyarakatkan pemakaian masker wajah untuk bisa mengendalikan epidemi ini.”