BAGIKAN
Image by tung256 from Pixabay

Sebuah penelitian telah menunjukkan bahwa orang yang dilahirkan buta atau tidak dapat melihat sejak dini sering kali memiliki indera pendengaran yang lebih tajam, terutama ketika terkait dengan talenta musik dan mendeteksi berbagai objek bergerak di dalam ruangan.

Selama beberapa dekade para ilmuwan telah mempertanyakan, perubahan apa yang telah terjadi pada otak yang mungkin menjadi penyebab peningkatan kemampuan dalam pendengaran tersebut.

Para peneliti dari University of Washington (UW) menggunakan MRI fungsional untuk mengidentifikasi dua buah perbedaan pada otak orang-orang buta yang mungkin bertanggung jawab atas kemampuan mereka untuk memanfaatkan informasi pendengaran dengan lebih baik.

“Ada gagasan bahwa orang buta pandai dalam kemampuan  pendengaran, karena mereka harus berjalan di dunia tanpa informasi penglihatan. Kami ingin mengeksplorasi bagaimana hal ini terjadi di otak,” kata Ione Fine seorang ilmuwan University of Washington penulis senior pada kedua studi.

Sepasang makalah dari penelitian di University of Washington diterbitkan di Journal of Neuroscience, yang kedua di Proceeding National Academy of Sciences, kedua buah studi ini menelaah kepekaan otak terhadap perbedaan halus dalam frekuensi pendengaran.

“Kami tidak mengukur seberapa cepat sel saraf terpicu, tetapi seberapa akurat populasi sel saraf mewakili informasi tentang suara,” kata Kelly Chang dari UW dan penulis utama pada makalah yang dipublikasikan di Journal of Neuroscience .

Studi tersebut menemukan bahwa pada korteks pendengaran, orang buta menunjukkan penyesuaian saraf yang lebih halus dibandingkan dengan orang-orang yang dapat melihat dalam membedakan perbedaan kecil pada frekuensi suara.

“Ini adalah studi pertama yang menunjukkan bahwa kebutaan menghasilkan plastisitas di korteks pendengaran. Ini penting karena ini adalah area otak yang menerima informasi pendengaran yang sangat mirip pada orang yang buta dan melihat,” kata Fine. “Tetapi pada tunanetra, lebih banyak informasi yang perlu di ekstraksi dari suara – dan hal ini tampaknya telah meningkatkan ketajaman pendengaran.

“Ini memberikan contoh elegan bagaimana perkembangan kemampuan dalam otak bayi dipengaruhi oleh lingkungan tempat mereka tumbuh.”

Studi kedua, meneliti bagaimana otak pada orang yang sejak dilahirkan telah buta atau menjadi buta di awal kehidupan, mengenali pergerakan berbagai objek di dalam ruangan. Tim peneliti menunjukkan bahwa area otak yang disebut hMT + – pada orang yang dapat melihat, hMT + berfungsi untuk melacak objek bergerak yang terlihat – menunjukkan respon saraf yang mencerminkan baik pergerakan maupun frekuensi sinyal pendengaran pada orang yang buta. Ini menunjukkan bahwa pada orang buta, area hMT + direkrut untuk memainkan peran analog — melacak objek bergerak melalui pendengaran, seperti mobil, atau langkah kaki orang-orang di sekitar mereka.

Makalah yang diterbitkan di Journal of Neuroscience melibatkan dua tim — satu dari UW, yang lain dari University of Oxford di Inggris. Kedua tim mengukur respon saraf pada partisipan studi sementara partisipan mendengarkan urutan nada mirip kode Morse yang berbeda-beda dalam frekuensinya sementara mesin fMRI merekam aktivitas otak. Tim peneliti menemukan bahwa pada peserta tunanetra, korteks pendengaran lebih akurat dalam mengenali frekuensi setiap suara.

“Studi kami menunjukkan bahwa otak orang buta lebih mampu mengenali frekuensi,” kata Chang. “Bagi orang yang dapat melihat, memiliki representasi suara yang akurat tidak begitu penting karena mereka memiliki penglihatan untuk membantu mereka mengenali objek, sementara tunanetra hanya memiliki informasi pendengaran. Ini memberi kita gambaran tentang perubahan otak yang menjelaskan mengapa orang buta lebih baik dalam membedakan dan mengidentifikasi suara di sekitarnya. ”

Studi yang diterbitkan di Proceeding National Academy of Sciences meneliti bagaimana otak memanfaatkan wilayah HMT + bisa membantu orang buta melacak pergerakan berbagai benda dengan suara yang dihasilkannya. Peserta sekali lagi diperdengarkan nada yang berbeda pada frekuensi pendengaran, tetapi kali ini nada yang terdengar seperti sedang terjadi pergerakan. Seperti yang telah ditemukan dalam penelitian sebelumnya, pada individu tunanetra respon saraf di daerah hMT + berisi informasi tentang arah gerakan suara, sedangkan pada peserta yang dapat melihat, suara ini tidak menghasilkan aktivitas saraf yang signifikan.

Dengan menggunakan suara yang berbeda-beda frekuensinya, para peneliti dapat menunjukkan bahwa pada tunanetra, wilayah hMT + dapat menyeleksi berbagai frekuensi serta bunyi dari pergerakan, mendukung gagasan bahwa wilayah ini dapat membantu para tunanetra melacak objek bergerak di dalam ruangan.

“Hasil ini menunjukkan bahwa kebutaan dini menghasilkan area penglihatan yang dimanfaatkan untuk menyelesaikan tugas pendengaran dengan cara yang relatif canggih,” kata Fine.

Penelitian ini juga mencakup dua subjek pemulihan penglihatan -orang yang telah buta sejak bayi sampai dewasa, ketika kembali dapat melihat melalui sebuah operasi di saat sudah dewasa. Pada orang-orang seperti ini, area hMT + tampaknya memiliki tujuan ganda, yang mampu memproses pergerakan yang terdengar dan terlihat. Diikutsertakannya orang-orang yang dapat melihat kembali setelah kebutaannya, memberikan bukti tambahan pada gagasan bahwa plastisitas di otak tersebut terjadi pada awal perkembangan, kata Fine, karena hasilnya menunjukkan bahwa otak mereka membuat peralihan ke pemrosesan pendengaran sebagai hasil dari kebutaan di awal kehidupan, namun mempertahankan kemampuan ini bahkan setelah penglihatan disembuhkan pada usia dewasa.

Menurut Fine, penelitian ini memperluas pengetahuan saat ini tentang bagaimana otak berkembang karena tim tidak hanya melihat daerah otak yang berubah sebagai akibat kebutaan, tetapi juga memeriksa dengan tepat perubahannya seperti apa – khususnya, kepekaan terhadap frekuensi – mungkin menjelaskan bagaimana orang buta sejak dini memahami dunia. Seperti yang dijelaskan oleh salah satu peserta dari penelitian, “Kamu melihat dengan mata, saya melihat dengan telinga.”

SUMBERUniversity of Washington
BAGIKAN