BAGIKAN
gergaji mesin kuno
Gergaji mesin untuk panggul (Credit: Sabine Salfer)

Gergaji mesin yang biasa digunakan untuk menebang pohon, pada awalnya adalah sebuah alat untuk memudahkan persalinan dalam operasi caesar. Dapat dibayangkan saat para dokter menerapkan metoda ini, sementara prosedur anestesi untuk mengurangi rasa sakit belum berkembang.

Tidak jelas sejak kapan pastinya operasi caesar awalnya berkembang. Namun, berbagai kisah dan mitologi dari Yunani kuno telah mengisahkan bagaimana proses persalinan ini menyelamatkan bayi dan ibunya dengan cara yang tak biasa dari waktu ke waktu.

Ada pandangan populer di mana operasi caesar diyakini berawal dari kelahiran Julius Caesar. Namun sepertinya ini tidak mungkin, karena saat itu prosedur ini hanya dilakukan untuk kondisi darurat, bagi para ibu yang meninggal atau tengah sekarat. Sementara Aurelia, ibu dari Julius Caesar, masih hidup dan sempat mendengar invasi puteranya ke Inggris.

Mungkin catatan tertulis pertama yang tentang seorang ibu dan bayi yang selamat dari operasi caesar berasal dari Swiss. Di tahun 1500, Jacob Nufer melakukan operasi caesar pada istrinya. Setelah beberapa hari selama persalinan dan bantuan dari tiga belas orang bidan, wanita tersebut tidak dapat melahirkan bayinya. Suaminya yang putus asa akhirnya mendapatkan izin dari pihak berwenang setempat untuk mencoba operasi caesar. Sang ibu selamat dan bayi caesar-nya hidup sampai usia 77 tahun.

Berkat pekerjaannya di bidang peternakan, Nufer juga memiliki sedikit pengetahuan anatomis. Salah satu langkah pertama dalam melakukan operasi apa pun adalah memahami organ dan jaringan yang terlibat, pengetahuan yang sulit diperoleh hingga era modern.

Dalam Western Journal of Medical and Physical Sciences edisi tahun 1830, Dr. John L. Richmond menggambarkan kasus kelahiran yang sulit selama badai. Setelah berjam-jam, dengan proses persalinan yang gagal, dokter percaya bahwa kehidupan wanita itu dalam bahaya besar dan “merasakan tanggung jawab yang dalam dan sungguh-sungguh, hanya dengan peralatan seadanya sekitar pukul satu malam itu, saya memulai Operasi Caesar,” IFLScience melaporkan.

Dengan menggunakan sebuah gunting yang melengkung sebagai pisau, dia menyayat perut sang ibu dan berusaha mengeluarkan bayinya. Namun, “karena ukurannya luar biasa besar, dan ibunya sangat gemuk, dan tidak ada bantuan, saya merasa bagian operasi saya ini lebih sulit daripada yang saya perkirakan,” tulisnya. Saat sang ibu sangat kepayahan, dia memutuskan bahwa “ibu tanpa anak lebih baik daripada anak tanpa ibu” dan mulai menyelamatkan ibu dan mengeluarkan janinnya.

Banyak dari operasi caesar paling awal yang berhasil terjadi di daerah pedesaan terpencil yang kekurangan staf dan fasilitas medis. Beberapa kasus operasi caesar tanpa anestesi dan antiseptik yang memadai tersebut, hanya menggambarkan bahwa betapa berisikonya proses persalinan tersebut. Terlepas dari bayi dan ibu yang selamat serta hidup normal setelahnya.

Sebuah metoda operasi yang dikenal sebagai simfisiotomi, mulai berkembang pada akhir abad 18. Sebuah cara yang dianggap lebih cepat dan lebih efisien. Saat itu, dua orang doktor asal Skotlandia, John Aitken dan James Jeffray, menggunakan gergaji mesin yang sebenarnya untuk pangkal paha. Sebuah prototipe dari gergaji mesin yang dikenal saat ini – pada tahun 1905 seseorang mematenkan gagasannya terhadap gergaji ini untuk memotong pohon. Namun, untuk sebagian besar abad ke-19, gergaji mesin adalah instrumen bedah yang berguna.

Simfisiotomi melibatkan pemotongan tulang rawan dan ligamen sendi panggul. Dalam kasus ekstrem, disebut pubiotomi, menggergaji melalui tulang panggul itu sendiri untuk melebarkannya dan memungkinkan bayi dilahirkan tanpa halangan.

Melansir The Guardian, cara ini dianggap kontroversial dan jarang digunakan di seluruh Eropa setelah pertengahan abad ke-20. Tetapi masih dilakukan terhadap sekitar 1.500 wanita di Irlandia antara tahun 1940-an hingga 1980-an. Mereka mengklaim hal itu telah menyebabkan ratusan wanita yang masih hidup dengan rasa sakit, cacat dan trauma emosional seumur hidup.