BAGIKAN
Bulan Purnama
(Ganapathy Kumar/Unsplash)

Pada saat bulan purnama, orang akan lebih mudah untuk terlelap tidur dari biasanya, menurut sebuah penelitian terbaru. Selama berabad-abad, bulan telah dikaitkan dengan segala peristiwa yang menimpa manusia. Mulai dari suasana hati, kecelakaan hingga bencana alam. Apakah bulan memengaruhi tidur kita, telah menjadi masalah kontroversial di kalangan ilmuwan.

Penelitian ini melibatkan dua komunitas yang berbeda. Yaitu, masyarakat perkotaan di Seattle dan penduduk Pribumi Toba-Qom di Formaosa Argentina. Adapun perbedaan yang dilihat dari kedua kelompok ini adalah akses pada listrik.

Dengan menggunakan sebuah alat di pergelangan tangan, para penliti dapat melacak pola tidur di antara 98 orang dari masyarakat Toba-Qom. Penelitian yang dipimpin oleh Horacio de la Iglesia dari University of Washington ini, membandingkan pola tidur dengan intensitas cahaya bulan.

Masyarakat yang kurang mendapatkan listrik

Masyarakat Toba-Qom lebih banyak kesempatan untuk melakukan berbagai kegiatan saat malam tiba. Merrka tidur lebih larut dan kurang tidur saat Bulan mendekati purnama. Mereka memiliki keterbatasan pada listrik. Bahkan ada yang tidak mendapatkannya sama sekai. Studi sebelumnya oleh tim de la Iglesia dan kelompok penelitian lainnya telah menunjukkan bahwa akses pada listrik berdampak pada tidur.

Toba-Qom yang berada di antara masyarakat perkotaan, tidur lebih lama. Namun mereka tidur lebih sedikit jika dibandingkan dengan rekannya di desa yang akses listriknya terbatas atau sama sekali tidak mendapatkannya.

Jumlah total tidur masyarakat Toba-Qom bervariasi sepanjang siklus bulan. Mereka terlelap rata-rata setelah 46 hingga 58 menit menjelang tidur, pada saat bulan belum nampak. Namun, mereka akan terlelap sekiar 20 menit saat bulan purnama hampir penuh.

Pola tidur di perkotaan

Para peneliti menganalisis data-data dari 464 mahasiswa di wilayah Seattle yang telah dikumpulkan untuk studi terpisah. Mereka menemukan waktu yang dibutuhkan hingga terlelap adalah sama.

“Meskipun efeknya lebih kuat di masyarakat tanpa akses pada listrik, efeknya juga muncul di komunitas yang memiliki listrik, termasuk sarjana di Universitas Washington,” kata de la Iglesia.

“Kami berhipotesis bahwa pola yang kami amati adalah adaptasi bawaan yang memungkinkan nenek moyang kita memanfaatkan sumber cahaya alami sore yang terjadi pada waktu tertentu selama siklus bulan,” kata penulis utama Leandro Casiraghi dari University of Washington.

Efek bulan ini juga dapat menjelaskan mengapa akses ke listrik menyebabkan perubahan yang nyata pada pola tidur kita, tambah de la Iglesia.

“Secara umum, cahaya buatan mengganggu jam sirkadian bawaan kita dengan cara tertentu: Itu membuat kita tidur lebih larut; itu membuat kita kurang tidur. Tapi umumnya kita tidak menggunakan cahaya buatan untuk ‘memajukan’ pagi, setidaknya tidak rela. Itu adalah pola yang sama yang kami amati di sini dengan fase bulan,” kata de la Iglesia.

“Pada waktu-waktu tertentu dalam sebulan, bulan adalah sumber cahaya yang signifikan di malam hari, dan itu jelas terlihat oleh nenek moyang kita ribuan tahun lalu,” kata Casiraghi.

Tim juga menemukan osilasi “semilunar” kedua dari pola tidur di komunitas Toba-Qom, yang tampaknya memodulasi ritme bulan utama dengan siklus 15 hari di sekitar fase bulan baru dan purnama. Efek semilunar ini lebih kecil dan hanya terlihat di dua komunitas pedesaan Toba-Qom.

“Secara umum, ada banyak kecurigaan tentang gagasan bahwa fase bulan dapat memengaruhi perilaku seperti tidur — meskipun di lingkungan perkotaan dengan polusi cahaya yang tinggi, Anda mungkin tidak tahu apa fase bulan kecuali Anda pergi ke luar atau melihat ke luar jendela,” kata Casiraghi.

Meskipun tidak pasti penyebabnya, menurut peneliti mungkin itu ada hubungannya dengan efek gravitasi, yang lebih kuat ketika gravitasi Matahari dan Bulan sejajar dua kali dalam sebulan.

“Di banyak spesies laut dan beberapa spesies terestrial, perilaku reproduksi disinkronkan dengan fase tertentu dari siklus bulan,” catat makalah tersebut yang dipublikasikan di jurnal Science Advances.

1 KOMENTAR