BAGIKAN
(Jared Sanders/Unsplash)

Suku Maya kuno telah menggunakan sistem penyaringan untuk sumber air mereka, menggunakan material yang digunakan orang modern ribuan tahun setelahnya. Setidaknya, mereka telah membangun sistem penyaringan air yang luar biasa canggih untuk zamannya.

Para peneliti menemukan bukti-bukti adanya sistem penyaringan air di waduk Corriental. Salah satu sumber air minum utama bagi suku Maya kuno di suatu tempat yang sekarang adalah Guatemala utara. Mereka mengidentifikasi kristal kuarsa dan zeolit ​​yang didatangkan puluhan kilometer dari kota. Begitu efektif, sehingga keduanya digunakan dalam sistem penyaringan air saat ini.

Kristal kuarsa telah digunakan oleh manusia sejak sekitar 14.000 tahun yang lalu di Afrika selatan, salah satunya untuk mempertajam persenjataan mereka. Masyarakat Yunani dan Romawi kuno telah menggunakannya bahan untuk semen dalam struktur air seperti jembatan dan saluran air. Namun para arkeolog memperkirakan bahwa zeolit ​​belum digunakan untuk penyaringan air sampai sekitar awal abad ke-20.



Tapi, bagaimana Suku Maya kuno tahu bahwa sistem penyaring mereka dapat menghilangkan mikroba berbahaya dari air yang akan dikonsumsi. Selain itu beberapa kandungan berbahaya lainnya juga bisa dipisahkan dari air. Senyawa yang kaya akan nitrogen, logam-logam berat seperti merkuri dan racun lainnya dari air.

“Mungkin melalui pengamatan empiris yang sangat cerdas bahwa Maya kuno melihat bahan khusus ini dikaitkan dengan air bersih dan berusaha untuk mendapatkannya kembali,” kata rekan penulis Nicholas Dunning dari University of Cincinnati.

Di Tikal – salah satu kota terbesar suku Maya, zeolit ​​secara eksklusif hanya ditemukan di reservoir Corriental. Artinya, tidak mungkin itu terjadi begitu saja ketika waduk digali. Para peneliti melacak zeolit ​​dan kuarsa, dan ternyata terdapat di sebuah pegunungan terjal di sekitar Bajo de Azúcar, sekitar 30 km dari Tikal. Setelah dilakukan pengukuran, para peneliti menetapkan bahwa kuarsa dan zeolit di pegunungan sangat cocok dengan mineral yang ditemukan di Tikal.

(Tankersley, et al. Scientific Reports, 2020)

“Yang menarik adalah sistem ini masih berjalan sampai sekarang dan suku Maya menemukannya lebih dari 2.000 tahun yang lalu,” kata Kenneth Barnett Tankersley, profesor antropologi dari University of Cincinnati dan penulis utama studi tersebut.

Suku Maya telah menciptakan sistem penyaringan air ini hampir 2.000 tahun sebelum sistem serupa digunakan di Eropa, menjadikannya sebagai salah satu sistem pengolahan air tertua dari jenisnya di dunia, kata Tankersley.

Bagi Maya kuno, menemukan cara untuk mengumpulkan dan menyimpan air bersih sangatlah penting. Kota Tikal dan kota Maya lainnya dibangun di atas batuan kapur yang akan mempersulit ketersediaan air selama musim kemarau.

“Mereka memiliki tangki pengendapan dimana air akan dialirkan menuju waduk sebelum memasuki waduk. Airnya mungkin terlihat lebih bersih dan mungkin terasa lebih enak juga,” katanya.

Sebelumnya, para peneliti juga telah menemukan bahwa beberapa waduk di Tikal akhirnya tercemar merkuri pada tingkat yang beracun. Kemungkinannya berasal dari pigmen yang disebut cinnabar, yang digunakan suku Maya untuk mewarnai dinding plester dan dalam upacara pemakaman. Namun, waduk Corriental terbebas dari kandungan unsur berbahaya ini.



Sistem penyaringan air yang kompleks telah diamati di berbagai peradaban kuno lainnya. Mulai dari Yunani, Mesir hingga Asia Selatan, tetapi ini adalah yang pertama kalinya diamati di Dunia Baru kuno, kata Tankersley.

“Maya kuno hidup di lingkungan tropis dan harus menjadi inovator. Ini adalah inovasi yang luar biasa,” kata Tankersley. “Banyak orang yang memandang Penduduk Asli Amerika di Belahan Barat tidak memiliki kekuatan teknik atau teknologi yang sama seperti di tempat-tempat seperti Yunani, Roma, India, atau China. Tetapi dalam hal pengelolaan air, Maya sudah ribuan tahun lebih maju.”

Penelitian tersebut telah dipublikasikan di Scientific Reports.