BAGIKAN
Iz & Phil / Unsplash

Setelah dilaporkan dua ekor anjing positif terinfeksi virus corona SARS-CoV-2 di Hongkong, di Belgia, seekor kucing menunjukkan gejala mirip dengan COVID-19. Berita ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran pada para pemilik binatang peliharaan, dan kita semua bertanya-tanya, apakah benar penyakit ini juga bisa menjangkiti hewan-hewan domestik.

Seorang pemilik kucing dilaporkan dites positif terinfeksi virus corona. Dan seminggu kemudian, kucing miliknya memperlihatkan gejala yang mirip COVID-19, kesulitan bernafas dan diare. Dokter hewan dari University of Liege, Belgia kemudian melakukan tes pada kucing tersebut untuk virus SARS-CoV-2 dan mendeteksi viral genome pada sampel muntahan dan feses kucing tersebut.

Haruskah kita khawatir jika penyakit ini bisa menular pada kucing?

Dan jawabnya – belum perlu. Karena masih dibutuhkan beberapa penelitian lanjut untuk bisa menjawab beberapa pertanyaan sebelum bisa menarik kesimpulan dari kasus ini.

Banyak orang yang mempertanyakan apakah virus corona yang terdeteksi pada kucing tersebut adalah benar-benar SARS-CoV-2 atau apakah memang benar-benar berbeda dengan jenis virus corona yang hanya menginfeksi kucing. Diketahui satu jenis virus corona bernama Feline coronavirus (FCoV) menginfeksi saluran pencernaan kucing. 

Feline coronavirus terdiri dari dua jenis:  yang pertama menyebabkan penyakit gastrointestinal ringan, dan yang lainnya menyebabkan penyakit yang mematikan bagi kucing, yaitu feline infectious peritonitis (FIP).

Secara genetis, feline coronavirus sangatlah berbeda dengan virus SARS-CoV-2. Artinya jika memang dilakukan tes yang spesifik untuk jenis virus tersebut, tentunya akan ditemukan perbedaan antara kedua jenis virus tersebut.

Tes standar untuk virus SARS-CoV-2 hanya mendeteksi genom dari virus. Perlu diketahui juga bahwa tes tersebut tidak bisa mendeteksi adanya partikel virus yang menjadi penyebab penyakit. Jadi tidak bisa diketahui apakah genom viral yang ditemukan pada kucing berasal dari partikel virus hasil replikasi diri.

Untuk mengetahui tingkat infektivitas virus, perlu dilakukan beberapa tes lainnya. Mungkin kucing tersebut memakan makanan yang terkontaminasi dan virus bisa masuk hingga mencapai saluran pencernaan. Kemungkinan ini bisa terbukti jika terdapat material genetis dalam jumlah besar yang terdeteksi pada kucing tersebut, tetapi data tentang hal ini belum dipublikasikan.

Sementara itu, diketahui pula bahwa kasus dua anjing yang diberitakan terinfeksi virus SARS-CoV-2 tidak menunjukkan gejala klinis dari COVID-19. Dan kucing yang kini menjadi pusat pemberitaan media tersebut ternyata tidak menunjukkan gejala-gejala gangguan pernafasan.

Dan setiap dokter hewan pasti mengetahui, bahwa gejala kesulitan bernafas pada kucing bisa disebabkan oleh banyak hal, dari penyakit feline asthma hingga jantung. Dan gejala diare pada kucing bisa disebabkan oleh banyak hal.

Tanpa mengetahui detail klinis dari kasus ini, kita tidak bisa menarik kesimpulan bahwa kucing tersebut memang tertular COVID-19 dari manusia, bisa jadi hanya kebetulan keduanya sakit pada saat yang bersamaan.

Dan hingga kini, masih belum ada bukti adanya penularan virus dari hewan domestik ke manusia. Dan diperkuat dengan pernyataan sebuah lab diagnostik kedokteran hewan terkemuka yang menyatakan bahwa mereka telah melakukan tes pada ribuan sampel anjing dan kucing untuk virus SARS-CoV-2 dan tidak ditemukan kasus positif.

Sementara itu, hingga 30 Maret 2020, virus corona baru telah menginfeksi lebih dari 720.000 orang di seluruh dunia, dan apabila  memang virus tersebut bisa menular pada hewan peliharaan, pastinya kita telah mengetahuinya sekarang.


Ditulis oleh Sara L Caddy, clinical research fellow di Viral Immunology and Veterinary Surgeon, university of Cambridge.

VIAAdell
SUMBERUniversity of Cambridge
BAGIKAN