BAGIKAN
Brian Yurasits / Unsplash

Sebuah tim peneliti dari Universitas Negeri Washington telah menemukan bahwa partikel berskala nano dari plastik yang paling umum digunakan cenderung bergerak melalui pasokan air, terutama di air tawar, atau menetap di pabrik pengolahan air limbah, di mana semua itu berakhir sebagai lumpur, di tempat pembuangan sampah, dan tidak jarang sebagai pupuk.

“Kta banyak minum plastik,” kata Indranil Chowdhury, dari WSU, yang memimpin penelitian. “Kita meminum hampir beberapa gram plastik setiap bulan atau lebih. Itu memprihatinkan karena Anda tidak tahu apa yang akan terjadi setelah 20 tahun.”

Para peneliti, termasuk Mehanz Shams dan Iftaykhairul Alam, meneliti apa yang terjadi pada plastik kecil berskala nano yang memasuki lingkungan perairan. Mereka telah menerbitkan karyanya di jurnal Water Research.

Diperkirakan setiap hari sekitar delapan triliun kepingan plastik melewati pabrik pengolahan air limbah dan berakhir di lingkungan perairan.

Potongan-potongan kecil plastik ini dapat berasal dari degradasi plastik yang lebih besar atau dari manik-manik yang digunakan dalam produk perawatan.

Sebuah studi baru-baru ini menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen air ledeng di AS mengandung plastik berskala nano yang tidak terlihat oleh mata manusia, kata Chowdury.

Dalam studi mereka, para peneliti mempelajari nasib partikel nano dari polietilen dan polistirena, yang digunakan dalam sejumlah besar produk, termasuk kantong plastik, produk perawatan pribadi, peralatan dapur, gelas minum sekali pakai dan bahan kemasan. Mereka memeriksa bagaimana partikel plastik kecil berperilaku di bawah pengaruh berbagai reaksi kimia, mulai dari air laut hingga air yang mengandung bahan-bahan organik.

“Kami melihat ini lebih mendasar,” kata Chowdury. “Mengapa itu menjadi stabil dan menetap di dalam air? Begitu berada di dalam berbagai jenis air, apa yang membuat plastik ini tetap bertahan di lingkungan?”

Para peneliti menemukan bahwa walaupun keasaman air berdampak kecil pada apa yang terjadi pada plastik berskala nano, garam dan bahan organik alami penting dalam menentukan bagaimana plastik bergerak atau mengendap. Yang jelas adalah bahwa plastik kecil menetp di lingkungan dengan konsekuensi kesehatan dan lingkungan yang tidak diketahui, katanya.

“Pabrik air minum kita tidak cukup untuk menghilangkan plastik mikro dan skala nano ini,” katanya. “Kita menemukan plastik ini di air minum, tetapi kita tidak tahu mengapa.”

Chowdury dan timnya sekarang mempelajari teknik untuk menghilangkan plastik dari air dan baru-baru ini menerima hibah dari Pusat Penelitian Air Negara Bagian Washington untuk pekerjaan itu.

Sementara itu, ia memotivasi orang untuk mengurangi dampak plastik berskala nano dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

“Gunakan kembali plastik sesering mungkin,” katanya.

SUMBERWashington State University
BAGIKAN