BAGIKAN
pixabay

Pulau Paskah sudah lama menjadi bahan berbagai penelitian terkait dengan patung-patung kepala berukuran raksasa yang penuh misteri yang bermunculan di tempat terpencil tersebut. Sebuah penelitian terbaru menawarkan wawasan segar yang mungkin bisa menjadi jawabannya, bahwa patung-patung yang disebut Moai mungkin ditujukan demi kesuburan pertanian di Rapanui (Pulau Paskah) dan menghadirkan pernyataan definitif yang menghubungkan kesuburan tanah, pertanian, penggalian batu dan sifat-sifat suci dari Moai.

Batu-batu yang dijadikan sebagai bahan untuk pembuatan patung yang jumlahnya hampir mencapai 1000 buah ini, 95 persen diperoleh dari sebuah tempat tambang batu yang dinamakan Rano Raraku. Para peneliti berfokus pada dua buah Moai khusus yang bertengger di sana dan menemukan bukti-bukti ilmiah termasuk analisa terhadap tanah di tambang batu tersebut.

Hasil penelitiannya diterbitkan di Journal of Archaeological Science.




Para pemahat batu Rapanui kuno bekerja atas perintah para penguasanya untuk memproduksi Moai karena mereka dan masyarakat pada umumnya percaya bahwa patung-patung itu mampu menghasilkan kesuburan pertanian dan dengan demikian menjadi pasokan makanan yang penting, menurut sebuah studi terbaru dari Jo Anne Van Tilburg, direktur dari Easter Island Statue Project.

Pengujian laboratorium secara ekstensif terhadap sampel tanah dari pertambangan Rano Raraku menunjukkan bukti keberadaan jejak-jejak bahan makanan seperti pisang, talas dan ubi jalar, yang mungkin telah ditanam di area pertambangan sebagai pasokan makanan bagi para pengrajin batu. Rano Raraku merupakan situs area pertanian yang produktif.

Dua Moai di tambang Rano Raraku di Rapa Nui, yang lebih dikenal sebagai Pulau Paskah (Credit : Easter Island Statue Project)

Tanah di Rano Raraku mungkin yang terkaya di pulau itu, tentunya dalam jangka panjang, kata geoarkeolog Sarah Sherwood. Ditambah dengan sumber air yang berada di pertambangan, tampaknya praktik penggalian itu sendiri membantu meningkatkan kesuburan tanah dan produksi makanan di sekitarnya, katanya. Tanah di tambang kaya akan tanah liat yang diciptakan oleh pelapukan lapilli tuff (batuan dasar lokal) ketika para pekerja menggali batu dan memahat Moai.




Pada hasil analisa pertama yang dilakukan terhadap tanah pertamabangan, ditemukan keberadaan zat hara, bahan-bahan kimia yang penting bagi kesuburan tanaman, namun menjadi pertanyaan. Untuk meyakinkan, analisis dilakukan kembali, menurut Sherwood.

“Ada tingkat yang sangat tinggi dari hal-hal yang saya tidak pernah perkirakan akan ada di sana, seperti kalsium dan fosfor. Kimia tanah menunjukkan unsur-unsur dengan kandungan yang tinggi yang merupakan kunci pertumbuhan tanaman dan penting untuk kualitas panen.” kata Sherwood.

“Di tempat lain di pulau itu, tanahnya dengan cepat akan menjadi tandus, terkikis, tidak ditemukan unsur-unsur yang bisa dijadikan bahan makanan tanaman, tetapi di tambang, dengan masuknya secara terus menerus potongan-potongan kecil dari batuan dasar yang dihasilkan oleh proses penggalian, ada timbal balik yang sempurna berupa sistem pengairan, pupuk alami dan nutrisi.”

Dia mengatakan itu juga terlihat bagaimana orang asli Rapanui kuno sangat intuitif dalam bercocock tanam dengan menanam berbagai jenis tanaman pada tempat yang sama sehingga dapat membantu menjaga kesuburan tanah.



Moai yang digali tim Van Tilburg ditemukan tegak di tempatnya, satu di atas tumpuan dan satunya lagi di lubang yang dalam, mengindikasikan keduanya memang diharuskan tetap berada di sana.

“Studi ini secara radikal mengubah gagasan bahwa kedua patung yang berdiri di Rano Raraku tersebut sekadar menunggu untuk diangkut keluar dari tambang,” kata Van Tilburg.

“Memang demikian dan mungkin Moai lainnya di Rano Raraku dipertahankan tetap berdiri untuk memastikan sifat suci dari tambang itu sendiri. Moai adalah pusat gagasan kesuburan, dan dalam keyakinan Rapanui kehadirannya di sana merangsang produksi pertanian pangan.”

Van Tilburg dan timnya memperkirakan bahwa patung-patung dari tambang didirikan pada atau sebelum 15 hingga 16 Masehi. Kegiatan di bagian tambang ini kemungkinan besar dimulai pada tahun 1455. Sebagian besar produksi Moai telah berhenti pada awal 1700-an dikarenakan kedatangan bangsa barat.