Sains
Mengapa Trilobita Mati dalam Sebuah Barisan
Para ahli menemukan bahwa perilaku kebersamaan dalam hewan sudah terbina sejak sekitar 480 juta tahun yang lalu. Berdasarkan bukti fosil dari trilobita yang ditemukan di Maroko, hewan-hewan ini terlihat sedang beriringan saling menyentuhkan duri panjangnya berduyun-duyun seperti dalam sebuah antrian. (adsbygoogle = window.adsbygoogle || ).push({}); Penelitian ini, telah dipublikasikan di jurnal Scientific Reports. Hasil analisa tim...
Daging Buatan dengan Tekstur Asli Berhasil Ditumbuhkan di Lab
Untuk menyediakan daging buatan dalam skala besar dihadapi berbagai tantangan, termasuk rasa yang akan diciptakan, sejauh mana bisa menyamai rasa daging asli. Para peneliti telah menumbuhkan sel-sel otot kelinci dan sapi yang dilekatkan pada perancah berbahan gelatin yang aman dikonsumsi. Hasilnya, diperoleh daging buatan dengan tekstur dan kekenyalan yang sama sepert daging asli. Para peneliti dari Harvard John A. Paulson School of Engineering...
Katak Menyamar Ular Mematikan Agar Terhindar dari Predator
Studi pertama tentang katak yang dapat meniru ular berbisa mengungkapkan bahwa kemungkinan amfibi ini meniru salah satu dari ular berbisa terbesar di Afrika baik dalam penampilan maupun perilakunya, menurut hasil yang diterbitkan dalam Journal of Natural History. Katak raksasa Kongo, dapat menggunakan kemampuannya untuk meniru ular berbisa Gaboon yang sangat berbisa agar tidak dimangsa predatornya. Ular beracun itu memiliki taring ular terpanjang di...
Karena Alien Menggunakan Pesawat Sangat Kecil Telah Menyulitkan Pengamatan, Menurut Seorang Fisikawan
Galaksi Bima Sakti, diperkirakan terdiri dari 200 miliar bintang, di mana setiap bintangnya bisa diorbit oleh paling tidak sebuah planet - sebagaimana Matahari yang dikelilingi oleh Bumi dan planet lainnya. Jika rata-rata galaksi yang ada di semesta berisi 100 miliar bintang, maka jumlah bintang di alam semesta ini, setidaknya adalah 100 miliar dikalikan 100 miliar. Bisa diperkirakan seberapa banyak planetnya,...
DNA Neanderthal dan Denisovan Membantu Orang Melanesia Bertahan Hidup
Sebuah tim peneliti dari AS, Italia dan Prancis telah menemukan bukti yang menunjukkan bahwa DNA yang diwarisi dari Neanderthal dan Denisovan mungkin telah membantu orang-orang Melanesia awal untuk bertahan hidup di lingkungan pulau tempat mereka tinggal. Dalam makalah mereka yang diterbitkan di jurnal Science, kelompok itu menggambarkan studi genetik mereka tentang orang Melanesia dan apa yang mereka temukan. Melanesia adalah gugus kepulauan yang...
Perisai Tembus Pandang Berhasil Dikembangkan Sebuah Perusahaan Asal Kanada
Sebuah perusahaan desain di Kanada bernama Hyperstealth telah mengembangkan teknologi kamuflase yang dikenal dengan Quantum Stealth, yang dapat menciptakan sebuah lembaran unik yang dapat menyembunyikan objek menjadi tak kasat mata seperti jubah ajaib Harry Potter. Lembaran ini seperti sebuah tabir setipis kertas, tidak mahal, dan tidak membutuhkan sumber listrik. Meskipun belum sempurna dalam menghilangkan berbagai benda yang berada di belakangnya, lembaran...
Jamur Lendir yang Cerdas Tanpa Otak dan 720 Alat Kelamin
Sebuah kebun binatang di Paris mempertontonkan sejenis mahluk aneh yang nampak seperti gumpalan lendir berwarna kuning yang memiliki kecerdasan tersendiri. Dikenal dengan julukan "The Blob" organisme ini tidak memiliki otak, mata, mulut, dan bersel tunggal, namun memiliki lebih dari 720 alat kelamin. Sebenarnya, organisme ini adalah jamur berlendir yang dikenal sebagai Physarum polycephalum. Namun, ia bukanlah jamur, tanaman, hewan, atau bakteri. Lebih pas-nya...
Kulit Dapat Menunjukkan Waktu Dengan Tepat Tanpa Kendali Dari Otak
Sebagian besar organisme mengantisipasi dan menyesuaikan diri dengan perubahan harian di lingkungan. Selama abad ke-18, astronom Jean Jacques d’Ortous de Mairan mempelajari tanaman mimosa, dan menemukan bahwa dedaunan terbuka yang mengarah pada matahari di siang hari dan tertutup pada sore hari. Dia bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika tanaman itu ditempatkan dalam kegelapan yang konstan. Dia menemukan bahwa terlepas...
Semut Tercepat di Dunia Mencapai 0,855 meter/detik
Semut yang dikenal dengan Perak Sahara (Cataglyphis bombycina), dapat berlari dengan kecepatan hampir mencapai 1 meter per detik, sebuah rekor yang luar biasa bagi spesies serangga seukurannya. Memiliki habitat di padang pasir, semut ini akan mengumpukan hewan-hewan kecil yang kurang beruntung menggelapar kepanasan di siang hari yang suhunya bisa mencapai 60 derajat Celcius. Harald Wolf dari Universitas Ulm, Jerman, beserta...
Penjelasan Sosok Kecil yang Telah Punah dari Pulau Flores
Tidak setiap hari para ilmuwan menemukan spesies manusia baru. Namun itulah yang terjadi pada 2004, ketika para arkeolog menemukan sejumlah fosil yang masih terawat di gua Liang Bua, Pulau Flores, Indonesia. Ukuran spesies manusia baru yang kecil ini, Homo floresiensis, membuatnya dijuluki “Hobbit.” Yang mengejutkan, para peneliti percaya bahwa spesies ini bertahan hingga akhir Zaman Es terakhir, sekitar 18.000 tahun yang...






































