BAGIKAN
(Whitehouse et al., MMWR, 2019)

Pada bulan September 2018, seorang staff wanita laboratorium di San diego sedang menjalani pelatihan untuk pekerjaan barunya. Dia akan bekerja dengan Vaccinia Virus (VACV) – sejenis virus yang menyebabkan penyakit cacar air.

Dia diberitahu tentang resiko yang akan dihadapi ketika bekerja dengan VACV dan diberikan pilihan untuk menerima vaksinasi cacar untuk berjaga-jaga apabila dia nanti secara tidak sengaja terinfeksi oleh virus tersebut.



Dan dia menolak menerima vaksinasi setelah diberitahu adanya efek samping setelah vaksinasi dan juga akan adanya bekas luka di sekitar area yang disuntikkan vaksin.

Tiga bulan kemudian, ketika dia sedang menyuntikkan VACV yang telah dimodifikasi secara genetik pada bagian ekor dari seekor tikus lab, secara tidak sengaja dia menusukkan jarinya dengan jarum suntik yang berisi VACV tersebut, dan bisa kita duga, selanjutnya dia akan menyesali keputusan yang telah dia ambil sebelumnya.

Tidak lama setelah insiden tersebut, dia segera membasuh luka dan segera memberitahukan supervisor-nya tentang kejadian tersebut. Kemudian dia direkomendasikan untuk segera dibawa ke unit gawat darurat untuk segera ditangani.



Virus Vaccinia masuk ke dalam golongan virus cacar, penyakit mematikan yang akhirnya berhasil diberantas di tahun 1980. VACV juga digunakan untuk membuat vaksin penyakit cacar, dan hingga kini masih digunakan di lab untuk memindahkan gen ke dalam sistem biologi.

Walaupun dia telah ditangani oleh tenaga medis, pada hari ke sepuluh, ujung jari yang tertusuk jarum suntik terlihat semakin bengkak dan dia pun merasa tidak sehat.

“Pada hari ke 12, dia dibawa ke unit gawat darurat karena demam (suhu tubuh 38,3 °C), kelenjar getah bening membengkak, merasa tidak enak badan, tubuh merasa sakit, dan pembengkakan pada ujung jari bertambah parah,” demikian laporan CDC menjelaskan.




“Penyedia layanan kesehatan mengkhawatirkan komplikasi akan berkembang menjadi sindrom kompartemen, yaitu kondisi medis akut yang menyertai luka pada otot dimana terjadi peningkatan tekanan (oleh radang) dalam ruang tertutup (kompartemen fascia) pada tubuh dengan suplai darah yang tidak memadai, infeksi pada sendi atau komplikasi lainnya.”

Pada hari itu, dia menerima antibodi vaccinia (untuk memperkuat sistem imun dalam melawan virus), dan juga obat jenis virus inhibitor bernama tecovirimat. Para peneliti kasus menjelaskan bahwa ini untuk pertama kalinya obat ini digunakan untuk infeksi jenis ini.

Walaupun demam dan pembengkakan kelenjar getah bening membaik 48 jam setelah diobati, kondisi luka di ujung jarinya semakin parah sebelum akhirnya membaik. Seperti bisa kita lihat pada foto perkembangan di bawah ini.

(Whitehouse et all., MMWR, 2019)

Penulis laporan dari kasus ini memberi kesimpulan bahwa para pekerja di laboratorium yang bekerja dengan jenis-jenis virus ini harus selalu waspada akan bahaya virus yang mereka tangani, dan harus dipastikan untuk mengerti akan adanya resiko tertusuk jarum suntik.




Staff laboratorium yang mengalami kecelakaan ini tidak diperkenankan bekerja selama 4 bulan sampai dipastikan dia tidak akan menyebarkan virus, dan dia mengakui bahwa dia tidak sepenuhnya mengerti akan bahaya yang akan dihadapi apabila dia menolak vaksinasi yang ditawarkan kepadanya.

“Walaupun pasien menolak vaksin ketika ditawarkan kepadanya, selama penyelidikan dia mengakui bahwa dia tidak menginginkan timbulnya infeksi tambahan yang timbul akibat pemberian vaksinasi VACV ketika pertama kali ditawarkan,” tim penyelidik menjelaskan.




“Penyelidikan ini menyoroti adanya kesalahpahaman pada pekerja laboratorium tentang bahaya dari jenis virus VACV; pentingnya untuk memberi informasi pada para laboran tentang informasi potensi bahaya dan juga prosedur ketika telah terpapar; dan walaupun tecovirimat ternyata bisa digunakan untuk mengobati infeksi VACV, tetapi keuntungan dari pemakaian obat ini masih belum sepenuhnya dipahami.”

Laporan ini telah dipublikasikan dalam Morbidity and Mortality Weekly Report