BAGIKAN
[Stevepb]

Tetes mata yang mengandung turunan kunyit mengurangi hilangnya sel retina pada tikus, menurut temuan terbaru dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh UCL dan Imperial College London.

Dalam paper terbarunya di Scientific Reports, para peneliti melaporkan metode terbaru untuk memberikan kurkumin,  ekstrak dari kunyit kuning, diteteskan langsung ke belakang bagian mata, dapat mengatasi tantangan kelarutan kurkumin yang buruk.

Tim peneliti menemukan bahwa tetes mata dapat mengurangi hilangnya sel retina pada tikus, yang dikenal sebagai tanda awal glaukoma.

Mereka juga menyelidiki bagaimana obat tetes mata dapat digunakan sebagai alat diagnostik untuk berbagai kondisi.

“Kurkumin adalah senyawa yang menarik yang telah menjanjikan dalam mendeteksi dan mengobati neurodegenerasi yang terlibat dalam berbagai kondisi mata dan otak. Mulai dari glaukoma hingga penyakit Alzheimer. Sehingga, kemudahan dalam mengelola obat tetes mata ini, mungkin akhirnya dapat menolong jutaan orang,” kata penulis utama studi, Profesor Francesca Cordeiro.




Glaukoma adalah sekelompok kondisi mata yang mempengaruhi lebih dari 60 juta orang di seluruh dunia. Namun, dapat mengarah pada kebutaan permanen dalam 1 dari 10 kasus. Kondisi ini terutama melibatkan hilangnya sel ganglion retina, sejenis sel saraf yang terletak di dekat permukaan retina. Menghentikan hilangnya sel-sel ini sejak dini belumlah tercapai, jadi ini adalah fokus utama dari penelitian glaukoma.

Kurkumin sebelumnya telah menunjukkan dapat melindungi sel ganglion retina saat diberikan secara oral. Untuk penelitian saat ini, para peneliti mencari metode yang lebih dapat diandalkan untuk memberikan kurkumin. Pemberian secara oral adalah menyulitkan. Karena kurkumin sulit untuk terlarut, sehingga tidak mudah larut dan terserap ke dalam aliran darah, dan akan mengharuskan orang untuk meminum tablet dalam jumlah besar (hingga 24 hari) yang dapat menyebabkan efek samping gastrointestinal (pendarahan di saluran pencernaan).

Tim mengembangkan nanocarrier baru, dimana kurkumin terkandung dalam surfaktan yang dikombinasikan dengan penstabil. Keduanya telah dikenal aman untuk digunakan manusia dan sudah ada berbagai produk untuk mata yang telah tersedia. Nanocarrier dapat digunakan dalam tetes mata untuk memberikan beban curcumin yang jauh lebih tinggi daripada produk lain yang masih dalam pengembangan, meningkatkan kelarutan obat dengan faktor hampir 400.000, dan melokalisir kurkumin di mata, bukan di seluruh tubuh.




Para peneliti awalnya menguji produk pada sel yang digunakan untuk memodelkan glaukoma, sebelum melakukan percobaan pada tikus dengan kondisi mata yang melibatkan hilangnya sel-sel ganglion retina.

Setelah penggunaan tetes mata dua kali sehari pada tikus selama tiga minggu, kehilangan sel ganglion retina berkurang secara signifikan dibandingkan dengan kontrol yang cocok, dan pengobatan ditemukan dapat ditoleransi dengan baik tanpa tanda-tanda iritasi mata atau peradangan.

Setelah menemukan cara yang efektif untuk memberikan curcumin, para peneliti berharap bahwa itu juga dapat digunakan untuk mendiagnosis penyakit Alzheimer, karena kurkumin diketahui mengikat endapan protein beta amyloid yang terlibat dalam Alzheimer, dan dapat dideteksi di retina dengan fluoresensi untuk menyoroti protein ganas.

“Kami sekarang meneliti penggunaan diagnostik untuk tetes mata ini bersama dengan cara lain untuk memvisualisasikan retina, karena tes mata dapat menjadi peluang untuk mendeteksi tanda-tanda neurodegenerasi dengan tes sederhana non-invasif,” kata rekan penulis Dr Ben Davis.




Profesor Cordeiro menambahkan: “Ketika kita hidup lebih lama, penyakit seperti glaukoma dan Alzheimer terus meningkat. Kami percaya temuan kami dapat memberikan kontribusi besar dalam membantu kehidupan orang-orang yang terkena penyakit yang merusak ini.”

VIAaum
SUMBERUniversity College London
BAGIKAN