BAGIKAN
Credit: Joy McCorriston, OSU

Para arkeolog telah menemukan berbagai peralatan kuno berupa ujung tombak dan mata panah berusia sekitar 8.000 tahun di dua situs berbeda di Yaman dan Oman.

Dikenal sebagai fluting, teknik dan proses dalam pembuatan ujung senjata dari batu yang serupa – seperti ujung tombak – paling tua hingga saat ini ditemukan berasal dari masyarakat Clovis (Amerika Utara) dan Folsom. Namun, bangsa Arab kuno ini memiliki teknik yang berbeda dalam pembuatannya. Bahkan senjata yang dibuat dinilai bukan hanya dari kegunaannya saja, tapi dirancang untuk layak dipamerkan.

Para peneliti dari Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis (CNRS), Universitas Negeri Ohio, dan Institut Max Planck untuk Ilmu Sejarah Manusia telah mempublikasikan hasil temuannya dalam jurnal PLoS ONE.



Ada satu perbedaan utama antara fluting yang digunakan di Amerika Utara dan cara fluting digunakan di Arab, kata Joy McCorriston, salah satu penulis studi dan profesor antropologi di Ohio State.

Di Amerika Utara, fluting digunakan hanya untuk membuat mata panah atau ujung tombak lebih berfungsi. Tetapi di Arab, orang juga menggunakannya untuk mendemonstrasikan keterampilan teknis mereka.

“Itu bagaikan bulu dari seekor burung merak — semuanya untuk penampilan. Mereka menggunakan fluting untuk menunjukkan betapa terampilnya mereka dalam menggunakan teknologi yang sangat sulit ini, dengan risiko kegagalan yang tinggi,” kata McCorriston.

Para ilmuwan mempelajari ujung proyektil dari dua situs arkeologi: Manayzah, di Yaman, dan Ad-Dahariz, di Oman. McCorriston dan tim dari Ohio State mengawasi penggalian di Manayzah, yang berlangsung dari 2004 hingga 2008.

Menemukan ujung proyektil bergalur selain di Amerika Utara adalah penemuan penting, kata Rémy Crassard dari CNRS, penulis utama studi ini.

Credit: © Jérémie Vosges / CNRS

“Berbagai ujung proyektil bergalur ini, hingga saat ini, tidak diketahui di tempat lain di planet ini. Ini terjadi hingga awal 2000-an, ketika contoh terisolasi pertama dari benda-benda ini ditemukan di Yaman, dan baru-baru ini di Oman,” kata Crassard.

Fluting memerlukan keterampilan yang khusus dalam memotong serpihan dari batu untuk membuat alur yang berbeda. Tentu ini sangat menyulitkan – pada zamannya – dan membutuhkan banyak latihan untuk menyempurnakannya, kata McCorriston.

Di Amerika Utara, hampir semua alur pada ujung proyektil berada di sekitar pangkalnya, sehingga alat tersebut dapat dipasangkan pada panah dengan sebuah tali atau sebagai poros tombak. Dengan kata lain, ini memiliki aplikasi yang praktis, katanya.

Credit: Rémy Crassard, CNRS

Namun dalam studi ini, para peneliti menemukan bahwa beberapa ujung proyektil dari Arab, tampaknya tidak memilki kegunaan, seperti di dekat ujungnya.



Sebagai bagian dari studi tersebut, para peneliti memiliki seorang teknisi yang ahli dalam flintknapping — pembentukan batu — yang mencoba membuat ujung proyektil dengan cara yang serupa seperti yang dilakukan oleh orang Arab kuno, sebagaimana caranya itu diyakini oleh para peneliti.

“Dia melakukan ratusan upaya untuk mempelajari bagaimana melakukannya. Itu sulit dan seorang flintknapper seringkali mematahkan ujung proyektilnya dalam mencoba untuk mempelajari bagaimana melakukannya dengan benar,” kata McCorriston.

Eksperimen alat-alat batu dan replikasi oleh ahli flintknapper modern. Credit: Jérémie Vosges, CNRS

Lalu, mengapa orang-orang Arab Neolitikum ini melakukannya jika itu sangat menyulitkan dan memakan waktu. Bahkan ada bagian yang tidak berguna. Selain itu, mereka hanya menggunakan fluting di beberapa titik.

“Tentu saja, kami tidak dapat memastikannya, tetapi kami pikir ini adalah suatu cara bagi si pembuat alat yang terampil, untuk memberi suatu isyarat kepada orang lain, mungkin bahwa seseorang – penggunanya- adalah pemburu yang mahir, cepat belajar, atau cekatan menggunkan tangannya,” katanya.

“Itu dapat menunjukkan bahwa seseorang pandai dengan apa yang dilakukannya. Hal ini dapat meningkatkan kedudukan sosial bagi seseorang di masyarakat.”

Penemuan ini menunjukkan bahwa meskipun ada banyak kesamaan antara fluting Amerika dan Arab, ada juga perbedaannya. Cara dalam melakukan fluting di dua tempat itu berbeda, yang tidak mengherankan karena keduanya terpisah ribuan mil dan ribuan tahun, kata McCorriston.

“Mengingat usianya, dan fakta bahwa ujung proyektil bergalur dari Amerika dan Arab dipisahkan oleh ribuan kilometer, tidak mungkin ada hubungan budaya di antara mereka,” kata rekan penulis Michael Petraglia dari Max Planck Institute.




SUMBEROhio State University
BAGIKAN