BAGIKAN
Couleur / Pixabay

Sejenis vaksin flu baru, dikembangkan dari tanaman tembakau. Saat ini telah menjalani dua tahapan uji klinis pada skala besar dengan hasil yang menjanjikan. Sebuah terobosan baru dalam dunia riset vaksin.

Vaksin ini mengandung partikel-partikel yang menyerupai virus yang mirip dengan strain virus flu yang ada. Diekstrak dari sebuah tanaman tembakau asli Australia yang telah menjalani rekayasa genetika. Tujuannya, agar dapat menghasilkan protein viral. Hasil dari penelitian ini telah dipublikasikan di jurnal The Lancet.

Kedua pengujian vaksin tersebut melibatkan hampir 23.000 orang. Hasilnya menunjukkan bahwa vaksin yang berasal dari tumbuhan tidak hanya aman. Tetapi juga dapat bekerja secara efektif, dibandingkan dengan vaksin-vaksin flu komersial lainnya.

Virus influenza yang selalu berubah-ubah setiap musim

Setiap tahun, vaksin yang melindungi kita dari penyakit influenza harus terus diformulasikan kembali. Tujuannya, untuk menghadapi musim flu yang akan datang, karena virusnya selalu berganti. Dan, semua itu bukanlah hal yang mudah. Memungkinkan orang untuk rentan terkena influenza, meski berulang kali menderitanya.

Virus influenza mirip dengan bunglon. Selalu mengubah struktur molekul protein yang terdapat di bagian permukaannya. Dan berdasarkan perubahan tersebut, para peneliti harus terus melakukan pembaharuan kembali. Mengembangkan teknologi vaksin virus secara cepat dan sekaligus efektif.

Sebagian besar vaksin influenza dibuat dengan menggunakan partikel-partikel virus. Ditumbuhkan dalam telur atau sel-sel yang ditumbuhkan di dalam lab. Sehingga, dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mengembangkannya. Bahkan, meski para peneliti telah menemukan jenis strain virus (dan permukaan protein) yang akan dijadikan sebagai target vaksin.

Vaksin dari tanaman tembakau yang telah direkayasa

Tanaman yang dapat direkayasa agar menghasilkan protein tertentu selanjutnya dibudidayakan dalam skala besar. Pada akhirnya dapat dijadikan sebagai alternatif untuk bahan baku vaksin. Sehingga kapasitas produksi vaksin flu musiman dapat ditingkatkan.

Teknik ini juga dapat membantu para peneliti dalam mengatasi komplikasi. Biasanya, terjadi selama proses produksi vaksin di mana akan berpotensi dalam mengurangi keefektifan dari vaksin tersebut.

Dalam penelitian ini, para peneliti menggunakan tanaman tembakau yang berasal dari Australia, Nicotiana benthamiana.  Sejenis tembakau yang direkayasa agar dapat menghasilkan partikel partikel yang mirip dengan virus influenza. Partikel-partikel mirip virus ini kemudian diekstraksi dan dimurnikan di bawah pengawasan yang ketat untuk membuat sejenis vaksin flu.

Para peneliti melakukan pengujian pada vaksin yang berasal dari tanaman ini dalam dua tahap uji klinis. Di mana kegiatannya telah dibiayai oleh sebuah perusahaan bioteknologi di Kanada, yang ikut serta mengembangkan teknik pembuatan vaksin ini. Sejauh ini tidak dilaporkan adanya permasalahan terkait dengan keamanan produknya.

Uji klinis fase ke-3 untuk keamanan dan uji lapangan, adalah tahapan paling penting yang harus dilewati. Sebelum vaksin mendapatkan persetujuan dan digunakan secara luas.

Pengujian pertamanya melibatkan lebih dari 10.000 orang dewasa yang berasal dari Asia, Eropa, dan Amerika Utara. Mereka berusia antara 18 hingga 64 tahun. Sedangkan pengujian ini dirancang untuk melihat apakah vaksin tersebut mampu melindungi hingga angka 70 persen. Yaitu kekebalan para partisipan terhadap sejenis penyakit flu. Selain itu juga terhadap berbagai penyakit yang menyerang saluran pernapasan, yang muncul bersamaan dengan musim penyakit flu.

Hasil pengujian yang memuaskan

Para peneliti mengambil kesimpulan berdasarkan data-data yang telah dikumpulkan selama tahun 2017 hingga 2018. Bahwa vaksin yang berasal dari tembakau ini memiliki kemampuan perlindungan yang mirip dengan vaksin influenza komersial yang telah ada. Di mana biasanya digunakan dalam satu periode dengan musim flu yang panjang. Dan hasilnya, cukup memuaskan.

Hasil penelitian kedua melibatkan sekitar 12.700 orang yang berusia 65 tahun atau lebih. Dan penelitian ini dinilai penting. Karena sistem imun orang-orang yang berusia lanjut cenderung semakin melemah seiring bertambahnya usia, membuat mereka rentan terkena infeksi.

“Seperti vaksin-vaksin influenza lainnya. Respons antibodi terhadap vaksin dari tembakau ini juga menurun seiring dengan bertambahnya usia,” kata para peneliti.

Vaksin tumbuhan kurang mampu menstimulasi respons antibodi pada orang-orang berusia lanjut. Tetapi vaksin ini mampu mengaktifkan sel-sel imun agar dapat merespons infeksi yang mirip dengan flu.

Apabila semua tahapan dari pengujian dapat dilewati dengan baik, dan vaksin telah siap diproduksi, maka kita memiliki alternatif baru. Yaitu, untuk memproduksi sejenis vaksin flu musiman yang mungkin nanti dapat ditingkatkan kemampuannya untuk menghadapi pandemi mendatang.