BAGIKAN
(NASA/JPL-Caltech)

Jika memang suatu bentuk kehidupan pernah ada di planet Venus, NASA mungkin pernah mendeteksinya 42 tahun yang lalu. Tetapi penemuan ini tidak pernah mereka sadari hingga saat ini.

Kemungkinan adanya kehidupan di Venus memang sangat kecil kemungkinannya. Tetapi ada alasan untuk terus menyelidikinya. Pada tanggal 14 September lalu, sebuah tim peneliti mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan pada jurnal Nature Astronomy. Dengan menggunakan teleskop, mereka berhasil mendeteksi keberadaan senyawa fosfina, sejenis gas beracun yang selama ini diduga merupakan sebuah tanda adanya bentuk kehidupan mikroba di luar Bumi, pada bagian atas dari atmosfer Venus yang tebal.

Hasil penemuan ini menjadi harapan baru bagi pencarian panjang bentuk kehidupan di sistem tata surya kita, dimana sejauh ini masih berfokus pada planet Mars, dan beberapa bulan yang mengorbit planet Jupiter dan Saturnus.

Sementara di planet Venus, dengan temperatur yang sangat panas dan atmosfernya yang beracun, selama ini dianggap sebagai tempat yang tidak ramah bagi bentuk kehidupan apapun untuk dapat bertahan. Tetapi kini, setelah menggali dalam arsip data NASA, Rakesh Mogul, seorang ahli biokimia di Cal Poly Pomona di California dan rekan-rekannya menemukan petunjuk adanya senyawa fosfin yang ditangkap oleh wahana Pioneer 13, yang mencapai planet Venus pada tahun 1978.

Mogul dan rekannya sangat familiar dengan data-data misi tersebut, dia mengatakan: “Jadi, untuk kami, ini adalah langkah sebuah langkah lanjutan untuk melihat kembali dara-data tersebut. Setelah berkonsultasi dengan rekan penulis artikel saya, kami menemukan artikel ilmiah aslinya, dan segera kami melakukan penelusuran tentang keberadaan senyawa fosfina.”

Penemuan ini, yang telah diunggah pada database arXiv pada tanggal 22 September dan belum menjalani tahap peer review, tidak memberikan banyak petunjuk tambahan bagi para ilmuwan selain dari apa yang telah dilaporkan di Nature Astronomy. Walaupun artikel tersebut memberikan bukti kuat keberadaan fosfina (yang terbentuk dari atom fosfor dan tiga atom hidrogen).

Data-data tersebut berasal dari hasil analisa dengan menggunakan instrumen Large Probe Neutral Mass Spectrometer (LNMS), satu dari beberapa instrumen yang berhasil mencapai atmosfer planet Venus sebagai bagian dari misi Pioneer 13.

Pioneer 13 menurunkan instrumen LNMS menuju awan-awan planet Venus, tergantung pada sebuah parasut, instrument tersebut berhasil mengumpulkan data dan mengirimkannya kembali ke Bumi sebelum kemudian jatuh karena tidak berfungsinya perangkat robot dari instrumen tersebut. ( tiga buah instrumen juga diturunkan dari Pioneer 13 tanpa parasut).

LNMS mengambil sampel dari atmosfer dan melakukan analisa dari sampel tersebut dengan spektrometri massa, sebuah teknik standar lab yang digunakan untuk mengidentifikasi senyawa kimia yang tidak diketahui. Ketika para ilmuwan pertama kali mendapatkan hasil analisa LNMS di tahun 1970an, mereka tidak mendiskusikan keberadaan senyawa fosfina tersebut, dan berfokus pada senyawa kimia lainnya.

Ketika tim Mogul memeriksa kembali data LNMS dari bagian tengah dan bawah awan Venus (yang berpotensi sebagai wilayah layak huni di Venus), mereka menemukan data sinyal yang kemungkinan besar adalah senyawa fosfina. Para ilmuwan juga menemukan bukti kuat keberadaan atom fosfor di atmosfer yang kemungkinan berasal dari gas yang bermassa lebih berat seperti fosfina.

LNMS tidak didesain untuk mencari senyawa-senyawa kimia seperti fosfina, dan akan sangat sulit untuk memisahkan gas tersebut dari molekul lainnya yang memiliki massa yang sama. Tetapi dari beberapa sampel Pioneer 13 ditemukan bukti kuat keberadaan molekul di dalam gas yang sama dengan fosfina, seperti yang diungkapkan dalam jurnal Nature Astronomy.

Mogul dan tim juga menemukan petunjuk keberadaan senyawa-senyawa lainnya yang seharusnya tidak ditemukan secara alami di planet Venus, seperti klorin, oksigen dan hidrogen peroksida.

NASA dan badan-badan antariksa Eropa, India dan Rusia berencana untuk mengirimkan misi lanjutan menuju Venus untuk menyelidiki lebih jauh tentang kemungkinan adanya bentuk kehidupan di planet tersebut.

VIAadell
SUMBERLive Science
BAGIKAN