BAGIKAN
fernando zhiminaicela / Pixabay

Saat ini, berbagai negara mulai melonggarkan pembatasan karantina di wilayah mereka. Berdasarkan hasil tes antibodi yang disebar di seluruh wilayah mereka, otoritas negara akan mempertimbangkan apakah sekolah-sekolah dapat dibuka kembali atau apakah para pekerja dapat kembali bekerja. Tetapi bagi sebagian orang yang telah melakukan tes ini, hasil yang didapat justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan dibandingkan jawaban.

Tidak semua jenis tes antibodi virus corona sama. Sebuah tim peneliti dari Bay Area belum lama ini mengevaluasi 14 jenis tes antibodi yang beredar di pasaran, dan hasilnya hanya ada 3 jenis yang hasilnya secara konsisten dapat dipercaya.

Banyak dari alat tes virus corona yang memberikan hasil positif palsu, artinya alat tes ini memberikan sinyal antibodi dari yang tidak ada dalam sistem tubuh seseorang.

Juga, alat tes ini memberikan hasil yang bias dengan penyakit lainnya yang sedang diderita seseorang yang melakukan tes ini, seperti dinyatakan oleh Ania Wajnberg, direktur departemen pengujian antibodi klinis di Rumah sakit Mount Sinai, New York.




Mount Sinai belum lama ini membagikan hasil tes antibodi yang dilakukan rumah sakit tersebut; dan alat tes yang mereka gunakan telah mendapatkan persetujuan bagi penggunaan klinis oleh badan pengawas obat dan makanan AS di bulan April.

Hasil tes tersebut menunjukkan bahwa semua pasien kecuali tiga orang dari 600 lebih pasien yang terkonfirmasi virus corona mendapat hasil positif untuk tes antibodi. Dan lebih dari 700 “kasus suspect”, yaitu orang-orang yang menunjukkan gejala COVID-19 dan pernah berdekatan atau tinggal bersama orang yang dites positif atau menurut diagnosa dokter telah terinfeksi virus corona, hanya 38 persen yang mendapat hasil positif untuk tes antibodi.

“Saya kira banyak orang yang mengira mereka telah terinfeksi virus corona, padahal tidak,” kata Wajnberg.

Wajnberg memberikan saran tentang kapan saat yang tepat untuk melakukan tes dan bagaimana memahami hasil tes tersebut, berdasarkan hasil riset bersama timnya.

Pada jenis tes antibodi tertentu dapat menunjukkan indikasi yang lebih baik adanya imunitas jangka panjang

Pada kasus Mount Sinai, tes dilakukan dengan melihat keberadaan immunoglobulin G (IgG), sejenis antibodi yang biasanya ditemukan di darah dan cairan tubuh lainnya.

Tes lainnya juga akan melihat keberadaan immunoglobulin M (IgM), yang juga bersirkulasi di dalam darah, atau immunoglobulin A (IgA), sejenis antibodi yang ditemukan di saluran pernafasan dan pencernaan.

Secara umum, tubuh kita awalnya akan menunjukkan respon IgM ketika terjadi infeksi viral. IgM juga berhubungan dengan jenis infeksi viral akut lainnya, dan respon IgG akan muncul jika infeksi telah berlangsung dalam jangka waktu yang lebih lama. Artinya, IgG merupakan indikator yang baik untuk imunitas jangka panjang, dan biasanya pada para pasien yang melakukan tes tidak lama setelah menunjukkan gejala, mungkin belum menghasilkan antibodi ini.

Para ilmuwan berpendapat bahwa antibodi IgG menunjukkan imunitas terhadap virus corona baru ini, dan para peneliti di Mount Sinai juga mempunyai pendapat yang sama.

Peneliti Bay Area menemukan bahwa tes IgM menunjukkan variable hasil yang lebih besar dibandingkan tes IgG, tetapi hasil tes akan lebih konsisten ketika kedua antibodi dites secara bersamaan.




Tunggu hingga 3 minggu untuk melakukan tes jika anda sedang sakit

Dalam penelitian di Mount Sinai, pada 113 pasien yang terkonfirmasi telah terinfeksi virus, awalnya akan memberikan hasil negatif untuk antibodi. Tetapi ketika mereka melakukan tes untuk kedua kalinya, kemungkinan akan memberikan hasil positif untuk semua antibodi.

“Untuk dapat memberikan hasil yang akurat, tes antibodi paling baik dilakukan tiga minggu setelah timbulnya gejala,” kata Wajnberg. “Kami bahkan melihat adanya perbedaan hasil dari penelitian pada 24 hari dan 20 hari.”

Pasien mungkin harus menunggu selama empat minggu untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat, dan mereka tidak perlu mengkhawatirkan antibodi akan menghilang dari sistem tubuh jika mereka menunggu terlalu lama untuk melakukan tes. Dan untuk penyakit yang disebabkan oleh virus corona jenis lainnya, seperti MERS dan SARS, antibodi IgG akan terlihat puncaknya dalam jangka waktu satu bulan setelah infeksi dan akan bertahan selama satu tahun atau lebih dari itu.

Pasien harus bebas dari gejala selama dua minggu

Wajnberg merekomendasikan untuk menunggu selama dua minggu setelah gejala hilang untuk melakukan tes antibodi. Dia juga mengatakan seorang pasien yang sakit selama beberapa minggu atau lebih kemungkinan tubuhnya telah membentuk antibodi pada saat itu.

Semua pasien yang ikut serta dalam penelitian Mount Sinai telah dinyatakan sembuh total, artinya kondisi mereka telah kembali normal ketika melakukan tes antibodi.

“Tidak semua orang sembuh dengan kondisi 100 persen, saya mengatakan 90-plus,” kata Wajnberg.

Sekitar 19 persen dari pasien memberikan hasil positif adanya infeksi aktif ketika melakukan tes setelah gejala penyakit mereda. Wajnberg mengatakan bahwa pasien-pasien tersebut masih berpotensi untuk menularkan virus pada orang lain atau virus di dalam tubuh mereka telah dikalahkan oleh sistem imun,” kata Wajnberg.

Para peneliti juga menemukan bahwa durasi gejala pada pasien tidak mempengaruhi respon antibodi seseorang. Wajnberg mengatakan bahwa kuantitas antibodi yang dihasilkan tubuh seseorang mungkin berhubungan dengan perbedaan bawaan dari respon imun orang tersebut.

Tes antibodi mungkin akan memberikan hasil negatif palsu, tetapi lebih cenderung memberi hasil positif palsu.

Para peneliti menetapkan batas minimum antibodi yang dibutuhkan pada hasil yang kembali positif pada tes antibodi virus corona.

Wajnberg mengatakan, tim Mount Sina menetapkan batas minimal yang cukup tinggi untuk mencegah seseorang memberikan hasil tes positif dengan jumlah antibodi yang rendah, dimana akan memunculkan asumsi palsu bahwa mereka telah memiliki imunitas terhadap virus.

“Semaik rendah anda menetapkan batas minimum, semakin besar kemungkinan anda mendapatkan hasil positif palsu,’ kata Wajnberg.

Hasil dari penelitian ini mengindikasikan hasil negatif palsu sangat jarang terjadi, walaupun kemungkinan selalu ada.

“Dengan banyaknya orang yang kami tes, walaupun dengan tingkat sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi, masih ada kemungkinan anda mendapatkan hasil yang salah, dan itu berlaku untuk semua alat tes di seluruh dunia.” Kata Wajnberg.

Para peneliti masih belum bisa menentukan jumlah spesifik dari antibodi yang dibutuhkan oleh seseorang untuk bisa sepenuhnya imun terhadap virus; walaupun pada pasien dengan jumlah antibodi rendah, masih ada kemungkinan mereka telah memiliki imunitas. Tetapi masih perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk bisa memastikannya, kata Wajnberg.



VIAAdell
SUMBERBusiness Insider 
BAGIKAN