BAGIKAN
The death of Germanicus by Nicolas Poussin (1628). ( Public Domain )

Caligula adalah salah satu kaisar Roma yang dikenal paling tirani, berkuasa dari 37 hingga 41 Masehi. Nama aslinya adalah Gaius Caesar Germanicus dan merupakan cicit dari Julius Caesar. Ia anak ketiga dari enam bersaudara yang lahir dari ayah Germanicus dan ibunya Agrippina the Elder.

Sejak usia 3 tahun, ia sudah sering mengikuti ayahnya Germanicus dalam kampanye militernya. Sesuai dengan tradisi, ia mengenakan seragam dengan sepasang sepatu bot kecil. Dan, itulah yang membuat orang-orang menjulukinya sebagai “Caligula”, kata Latin untuk “sepatu bot kecil”.

Germanicus adalah keponakan dan anak angkat kaisar Tiberius, meskipun demikian keduanya adalah saingan dalam politik. Saat Germanicus meninggal, Agrippina the Elder percaya bahwa Tiberius penyebab atas kematian suaminya. Secara terbuka ibu dari Caligula menyatakan bahwa dia akan membalas dendam untuk almarhum suaminya.

Tiberius tidak mau diam. Ia lalu memenjarakan Agrippina the Elder dan kedua saudara Caligula (Nero, dan Drusus) hingga ketiganya binasa saat dipenjara. Karena usia Caligula yang masih muda, ia diampuni dan terpaksa tinggal bersama nenek buyutnya, Livia – ibunya Tiberius. Pada masa inilah Caligula yang saat itu masih remaja diyakini melakukan inses dengan adiknya, Drusilla. Menurut Suetonius, Caligula sangat tertarik pada praktik Mesir yang menggunakan inses untuk mempertahankan garis keturunan bangsawannya.

Tiberius dan ibunya Livia, 14–19 M, dari Paestum, Museum Arkeologi Nasional Spanyol, Madrid (Wikimedia)

Merebut kekuasaan

Pada tahun 31 M, Caligula dipanggil oleh kaisar Tiberius ke pulau Capri. Ia kemudian diadopsi oleh sang kaisar tersebut, seorang pria yang dia anggap sebagai pembunuh ayahnya. Meskipun ia dimanjakan, Caligula terpaksa harus meredam segala amarahnya dan menunjukkan rasa hormat kepada Tiberius. Enam tahun kemudian Tiberius meninggal dan sebagian mengatakan bahwa ia telah dicekik oleh Caligula.

Caligula dan sepupunya Gemellus dijadikan sebagai pewaris takhta yang setara. Namun Marco, yang bersekongkol dengan Caligula mengatur agar Caligula dinobatkan sebagai satu-satunya kaisar. Tak lama kemudian, Caligula pun membunuh Gemellus dan Marco.

Caligula baru berusia 25 tahun ketika dia menjadi kaisar Roma pada 37 M. Ia adalah seorang kaisar yang dicintai dan mendapatkan banyak sambutan. Ia memberikan bonus kepada siapapun yang berada di militer, menghapus pajak yang semena-mena, dan membebaskan mereka yang telah dipenjara secara tidak adil. Dia juga menggelar berbagai acara mewah, termasuk balapan kereta, drama, dan pertunjukan gladiator.

Bagi masyarakat yang gembira merayakan kenaikan Caligula, satu-satunya cara yang mereka tahu adalah dengan mengorbankan hewan. Ada catatan yang mengatakan bahwa orang Romawi saat itu mengorbankan sekitar 160.000 hewan dalam tiga bulan pertama pemerintahan Caligula.

Di awal masa pemerintahannya, dia memutuskan untuk menghabiskan banyak uang untuk membangun sebuah jembatan apung di seberang Teluk Napoli. Sebelum naik takhta, seorang astrolog Thrasyllus meramalkan bahwa Caligula “tidak memiliki kesempatan lagi untuk menjadi kaisar daripada menunggang kuda melintasi Teluk Baiae”. Caligula berusaha membuktikan bahwa pria itu bodoh dan berusaha keras untuk mewujudkan ambisinya.

Ia memerintahkan untuk menderetkan seluruh armada kapal Romawi baik angkatan laut maupun kapal dagang menjadi seuah jembatan. Tujuannya, agar kaisar bisa menaiki kuda menuju pulau diseberangnya melintasi Teluk Napoli. Proyek gila ini menyebabkan kelaparan sesaat di Roma, sementara yang lainnya menantang keberadaan jembatan tersebut.

Caligula/Wikipedia

Jatuh sakit dan awal kegilaan

Enam bulan setelah pemerintahannya, Caligula jatuh sakit parah. Selama hampir sebulan, dia berada di antara hidup dan mati. Dia sembuh, tetapi dengan mudah terlihat bahwa dia bukanlah orang yang sama. Banyak dari perubahan sikapnya yang membuat orang kebingungan, bahkan dianggap telah menjadi gila. Dia mulai membunuh orang-orang yang dekat dengannya atau mengirim mereka ke tempat pengasingan.

Caligula menganggap dirinya sebagai dewa. Ia mendirikan sebuah kuil yang didedikasikan untuk dirinya sendiri dan menempatkan sebuah patung emas yang merupakan replikanya sendiri. Setiap hari, dia menyuruh agar patung itu mengenakan apa pun yang dia kenakan. Orang-orang terkaya di Roma akan memberikan berbabagi persembahan berupa flamingo, burung merak, dan hewan eksotis lainnya yang sangat dikagumi oleh orang Romawi.

Caligula tidak hanya menganggap dirinya sebagai dewa — dia membenci dewa yang sebenarnya karena disembah bersamanya. Dia memerintahkan agar kepala dari patung berbagai dewa di seluruh Roma dilenyapkan, dan mengganti semua dengan rupanya sendiri. Karena dia yakin, itu membodohi semua orang.

Sejarawan Romawi Gaius Suetonius Tranquillus menulis sebuah cerita tentang kaisar Caligula, yang memerintahkan anak buahnya untuk mengumpulkan kerang di lautan seolah-olah mengumpulkan rampasan perang. Secara umum diyakini bahwa Caligula menyatakan perang terhadap dewa air dan laut Neptunus. Namun, ada kemungkinan bahwa Suetonius sengaja memanipulasi fakta untuk membuat Caligula tampak lebih buruk.

Dia melakukan hubungan seksual dengan istri para pejabat di depan suaminya. Anehnya, ia juga memaksa para pejabat berhubungan intim dengannya di depan isterinya. Sejarawan kuno mencatat bahwa Caligula mulai merebut kekuasaan dari banyak orang dengan menuduh, mendenda, dan bahkan membunuh mereka secara tidak benar.

Caligula sangat tertarik pada gladiator. Ia pernah melawan salah satu gladiator yang hanya menggunakan pedang kayu. Gladiator itu dengan sengaja menjatuhkan diri, mungkin untuk menghormati sang kaisar. Namun Caligula malah menerkam dan membunuhnya dengan belati sungguhan.

Caligula menghabiskan banyak uang untuk olahraga dan permainan. Dia membangun trek balap untuk dirinya sendiri dan meracuni kuda-kuda saingannya. Para tamu di pesta makan malamnya disajikan dengan makanan yang terbuat dari emas dan dia meminum mutiara yang dilarutkan dalam cuka.

Setelah kematian istri pertamanya, Caligula merebut istri keduanya dari pernikahannya dengan pria lain. Istri ketiganya adalah seorang wanita yang sudah menikah di mana suaminya dipaksa untuk memberikannya kepada sang kaisar. Istri keempatnya, Milonia Caesonia, memberinya anak satu-satunya bernama Drusilla – dinamai menurut nama saudara perempuannya. Tapi Milonia sendiri pernah diarak telanjang Caligula di depan teman-temannya.

Kebijakan Caligula sudah diluar akal sehat, dia mengajak kuda kesayangannya yang diberi nama Incitatus untuk turut serta dalam jamuan makan malam bersama tamu-tamunya yang rata-rata adalah Senator. Bentuk sayangnya pada Incitatus, kuda tersebut diberikan kalung dari batu mulia  dan mengenakan jubah ungu. Kandangnya pun dibuat khusus di dalam istana, yang terbuat dari gading yang diukir.

“Kematian Caligula” (Wikimedia)

Kebencian yang meluap

Ketika tindakan Caligula semakin menjadi-jadi, orang-orang Roma mulai membencinya serta ingin menyingkirkannya dari kekuasaan. Pada satu titik, Caligula menyatakan kepada Senat bahwa dia akan meninggalkan Roma dan pindah ke Mesir, di mana dia akan disembah sebagai dewa yang hidup. Mungkin saat itulah Cassius Chaerea dari Pengawal Praetorian mulai merencanakan kematian Caligula.

Pada 24 Januari 41 M, sekelompok penjaga menyerang Caligula setelah acara olahraga. Dia ditikam lebih dari 30 kali, dan setelah kematiannya dia dimakamkan di sebuah kuburan yang dangkal. Chaerea dikatakan sebagai orang yang pertama kali menusuk Caligula, lalu diikuti oleh yang lainnya. Istri dan putri kaisar juga ditikam dan dibunuh.

Setelah kematiannya, Senat mendesak agar Caligula dihapus dari sejarah Romawi. Patung-patungnya dihancurkan dan bergerak cepat untuk memulihkan kembali Republik. Dalam suatu peristiwa yang tak terduga, orang-orang Roma marah dan menuntut balas dendam bagi mereka yang telah membunuh kaisarnya. Paman Caligula, Claudius, menjadi kaisar Romawi berikutnya dan memerintahkan kematian Chaerea dan siapa pun yang terlibat dalam kematian Caligula.

Banyak sejarawan, baik kuno maupun modern, mencoba menjelaskan apa yang membuat Caligula begitu gila. Beberapa orang berspekulasi bahwa dia menderita epilepsi — atau, sebagaimana Suetonius menyebutnya, “jatuh sakit”.

Racun timbal dalam anggur

Bangsa Romawi menggunakan pemanis buatan, Gula Timbal, untuk mempermanis dan mengawetkan makanan mereka tanpa menambah kalori. Gula Timbal, kemungkinan pemanis buatan pertama, sekarang dikenal sebagai senyawa kimia Timbal (II) Asetat, dan merupakan padatan kristal beracun yang menyerupai garam meja.

Para pembuat anggur Romawi menemukan bahwa perebusan jus anggur yang tidak difermentasi menghasilkan cairan yang lebih manis yang dikenal sebagai defrutum atau sapaDefrutum dibuat dengan merebus setengah volume anggur, sedangkan sapa adalah hasil pengurangan sepertiga volume asli anggur.

Romawi menggunakan cairan yang lebih manis ini untuk meningkatkan rasa makanan yang ada, mengawetkan buah, dan mengawetkan makanan bagi para tentara Romawi. Proses perebusan memakan waktu berjam-jam pada suhu tinggi, menyebabkan timbal merembes keluar dari wadah, secara tidak sengaja mempermanis sapaRasa manis ini disebabkan asam asetat dalam anggur berubah menjadi bentuk terhidrolisisnya, asetat. Ion asetat yang dikombinasikan dengan kation timbal yang dilepaskan dari wadah, membentuk timbal asetat.

Bangsa Romawi juga menggunakan defrutum dan sapa untuk mempermanis anggur yang difermentasi. Orang Romawi pada umumnya mungkin minum satu liter anggur dalam sehari, dan, dalam melakukannya, menelan hingga 20 mg timbal selama prosesnya. Para pembuat anggur memilih wadah timbal daripada wadah kuningan ketika mereka mengetahui bahwa wadah timbal menghasilkan rasa yang lebih manis.

Bertanggung jawab atas Kejatuhan Roma?

Sebuah laporan di New England Journal of Medicine mengatakan bahwa anggur Romawi favorit diproses dalam bejana timbal, memberikan asupan timbal yang tinggi dan memberikan dukungan kuat ‘bahwa keracunan timbal berkontribusi pada kemunduran Kekaisaran Romawi.’

Menurut WHO, paparan timbal dapat berdampak serius bagi kesehatan anak-anak. Pada tingkat paparan yang tinggi, timbal menyerang otak dan sistem saraf pusat hingga menyebabkan koma, kejang, dan bahkan kematian.

Di dalam otak, kerusakan akibat timbal di korteks serebral prefrontal, hipokampus, dan otak kecil dapat menyebabkan berbagai gangguan neurologis, seperti kerusakan otak, keterbelakangan mental, masalah perilaku, kerusakan saraf, dan mungkin penyakit Alzheimer, penyakit Parkinson, dan skizofrenia.

Jerome Nriagu dari Institut Penelitian Air Nasional Kanada melaporkan bahwa kira-kira dua pertiga – 19 dari 30 – pemimpin Romawi yang memerintah antara 30 SM hingga 220 M memiliki ‘kecenderungan terhadap anggur yang tercemar timah’.

Kaisar Claudius yang memerintah dari tahun 41 hingga 54 M dilaporkan dungu dan linglung, dan menderita gangguan bicara, anggota tubuh lemah, gaya berjalan canggung, gemetar, tawa tiba-tiba – indikator keracunan timah dan asam urat.

Tiberius, yang memerintah dari 14-37 M, adalah seorang peminum anggur dan penderita skizofrenia. Nriagu mengatakan kecintaannya pada anggur bahkan membuatnya mendapat julukan ‘Biberius.’

Caligula, penguasa dari 37-41 M, yang namanya menjadi identik dengan kekejaman yang berlebihan, adalah seorang pecandu alkohol kronis. Kerusakan mentalnya telah dikaitkan dengan ‘makan berlebihan dan kemungkinan juga keracunan timbal,’ kata Nriagu.

Penggunaan timbal asetat secara konsisten untuk mempermanis makanan menyebabkan keracunan pada banyak orang. Sebagian dari mereka orang Romawi  menentukan korelasi antara konsumsi timbal dan keracunan dari waktu ke waktu. Para ilmuwan akhirnya menentukan timbal asetat sebagai pelakunya, dan senyawa tersebut kehilangan tempatnya sebagai suplemen makanan.