BAGIKAN

Di tanah yang kering seperti Taman Nasional Tsavo di Kenya, tidak ada pengunjung yang datang dengan lebih banyak keriuhan daripada seorang pria yang mengantarkan air.

Dia adalah Patrick Kilonzo Mwalua. Dan saat dia bergemuruh  di jalan berdebu dengan truknya yang berisi sekitar 3.000 galon air tawar, gajah, kerbau, antelop dan zebra bedatangan menghampirinya.

Mereka telah mengenal pria pembawa air dengan gemuruh mesinnya. Dan muatan yang dapat menyelamatkan nyawa mereka.

“Sama sekali tidak ada air, jadi binatang tergantung pada manusia,” kata Mwalua kepada The Dodo. “Jika kita tidak membantu mereka, mereka akan mati.”

Mwalua mengisi air pada sebuah kubangan air tempat hewan berkumpul menghilangkan dahaganya, namun karena kemarau tempat itu kekeringan, berkendara berjam-jam setiap hari untuk mengangkut air ke tempat yang membutuhkan pertolongan.

Kubang itu sendiri, yang dilapisi beton perlu untuk sering dibersihkan – Mwalua menyalahkan kotoran kerbau – dan terkadang, dia hanya akan menyirami area tanah yang retak untuk hewan – hewan yang membutuhkan.

“Kerbau berkubang di lumpur sehingga mereka membunuh kutu – kutu,” katanya.

Banyak hewan bahkan sudah tidak bisa menunggu, tanpa rasa takut berkerumun di atas truk saat Mwalua membuka keran.

“Tadi malam, saya menemukan 500 ekor kerbau menunggu di kubang air,” katanya. “Ketika saya tiba mereka bisa mencium bau air. Kerbau sangat tertarik dan mendekati kami.

“Mereka mulai meminum air saat saya berdiri di sana, mereka sangat kegirangan.”

Mwalua, seorang petani kacang di desa setempat, mengemukakan ide tersebut setelah melihat secara langsung bahwa perubahan iklim yang suram telah terjadi di tanah airnya. Pada tahun lalu terutama, katanya, daerah tersebut telah mendapatkan curah hujan yang sangat sedikit, membuat hewan mati kehausan di tanah yang gersang ini.

“Kami benar-benar¬†tidak mendapatkan hujan seperti dulu,” katanya. “Sejak tahun lalu, dari bulan Juni, tidak ada hujan sama sekali, jadi saya mulai memberikan hewan air karena saya berpikir, ‘Jika saya tidak melakukannya, mereka akan mati.'”

Disamping pengngkutan air, Mwalua menjalankan proyek konservasi yang disebut Tsavo Volunteers. Petenis berusia 41 tahun itu juga mengunjungi sekolah setempat untuk berbicara dengan anak-anak tentang satwa liar yang merupakan warisan mereka.

“Saya lahir di sekitar sini dan tumbuh dengan satwa liar dan mendapat banyak gairah tentang satwa liar,” katanya. “Saya memutuskan untuk membawa kesadaran akan hal ini sehingga ketika mereka besar, mereka dapat melindungi satwa liar mereka.”

Tahun lalu, Mwalua mulai menyewa truk dan mengemudikan mobil ke beberapa lokasi di Tsavo West. Misinya akan berkembang menjadi beberapa truk, membuatnya tetap berada di jalanan berjam-jam setiap hari saat ia melakukan perjalan puluhan mil yang sulit tempat peristirahatan.

“Truk itu berat dan tidak dapat melaju kencang,” katanya. “Kita harus sangat sabar dan tetap mengantarkan air.”

Tapi tujuannya juga telah meluas dari selang air di Tsavo West sampai ke Amerika Serikat – di mana tiga wanita, yang belum pernah bertemu dengannya atau satu sama lain, membantunya menjaga keran tetap mengalir.

“Saya mengunjungi Kenya pada bulan Desember 2015, meskipun saya tidak mengenal Patrick pada saat itu atau bertemu dengannya,” Angie Brown, yang tinggal di Connecticut, mengatakan kepada The Dodo. Tapi alam liar, dan terutama nasib buruk hewan – hewannya, menghantuinya.

Ketika dia mendengar tentang kekeringan yang paling baru, Brown terhubung di Facebook dengan Cher Callaway dan Tami Calliope. Trio – Callaway tinggal di Utah dan Calliope di Vermont – memutuskan untuk membantu.

Callaway, yang telah bekerja dengan Mwalua di beberapa proyek – termasuk penggalangan dana untuk sarang lebah dan patroli malam untuk menakut-nakuti gajah dari desa – mengatakan bahwa petugas pengiriman air Kenya menjaga hewan tetap hidup selama kekeringan saat ini.

“Komitmennya terhadap satwa liar dan warisannya tak terukur,” katanya pada The Dodo. “Bahkan mempertaruhkan nyawanya sendiri di tengah malam untuk mengantarkan air ke lubang air kering.”

Callaway membuat halaman GoFundMe yang sejauh ini telah mengumpulkan lebih dari $ 18.000 dari orang-orang di seluruh dunia – semuanya mengarah ke layanan pengiriman air Mwalua.

“Kita semua telah menghabiskan banyak waktu untuk mendapatkan kabar tentang hewan yang Patrick bantu dan GoFundMe telah berhasil,” kata Brown. “Dia membutuhkan lebih banyak uang sekalipun.”

Bahkan, mereka berharap bisa segera membelikannya truknya sendiri.

Tapi dengan satu atau lain cara, Mwalua akan terus bergemuruh di jalan-jalan berdebu itu. Masih jauh perjalanan yang harus ditempuhi. Dan banyak lagi mulut – mulut yang kehausan.