BAGIKAN
Sebuah diorama menunjukkan Homo erectus , spesies manusia paling awal yang diketahui telah mengendalikan api, dari dalam Museum Nasional Sejarah Mongolia di Ulaanbaatar , Mongolia .(Wikipedia)

Kapan manusia pertama kali memanfaatkan api untuk memasak makanan, masih menjadi perdebatan di antara kalangan ilmuwan.

Untuk memasak diperlukan api. Tapi api adalah hal yang sulit untuk diidentifikasi dalam catatan arkeologis. Buktinya telah benar-benar lenyap sebagai asap dan abu yang bisa tersapu oleh angin.

Selain itu, sisa-sisa pembakaran menjadi sulit untuk dibedakan dengan yang disebabkan oleh peristiwa kebakaran secara alami. Karena itulah para arkeolog umumnya mencari tanda-tanda pembakaran di dalam gua. Untuk meminimal kemungkinan sisa-sisa api yang disebabkan oleh kebakaran hutan.

Bukti perapian purba

Perapian tertua yang telah ditemukan berusia 400.000 tahun di Eropa. Meskipun sisa-sisa kayu yang terbakar, batu dan makanan di sebuah situs di Israel menunjukkan bahwa hominin telah menggunakan api sejak 790.000 tahun yang lalu.




Neanderthal yang berevolusi dari Homo erectus sekitar 250.000 tahun yang lalu tentu saja menciptakan perapian, karena perapian telah ditemukan di kebanyakan situs Neanderthal. Beberapa di antaranya bahkan terdapat tulang yang terbakar.

Bukti terbaru terkait makanan yang dimasak berusia 170.000 tahun. Manusia modern awal, memanggang tanaman bertepung di dalam sebuah gua di Pegunungan Lelombo, Afrika Selatan. Temuan ini juga menunjukkan perilaku kebersamaan dalam berbagi makanan dalam komunitas sesama penghuni gua.

Namun jejak memasak makanan bisa jauh lebih purba lagi. Terdapat bukti sistem perapian yang agak samar. Ditemukan pada sebuah sedimen di dalam gua di Wonderwerk di Afrika Selatan. Usianya mencapai 1 juta tahun. Francesco Berna, seorang arkeolog di Universitas Boston di Massachusetts, dan rekan-rekannya menemukan abu dari rumput, dedaunan, semak-semak dan potongan tulang yang telah terbakar. Diperkirakan merupakan jejak-jejak yang telah ditinggalkan oleh Homo Erectus.

Perubahan bentuk anatomi akibat makanan

Sebagai alternatif untuk menelusurinya juga dapat ditemukan pada perubahan gigi dan rahang hominin. Geraham menyusut dan tengkorak tumbuh sekitar 1,9 juta tahun yang lalu. Menurut Richard Wrangham di Universitas Harvard, mencerminkan sebuah momen bahwa hominin mengembangkan rasa untuk makanan yang dimasak. Karena ini membutuhkan lebih sedikit mengunyah. Makanan menjadi lebih mudah dicerna, sehingga dapat mencukupi energi untuk mempertahankan otak yang lebih besar. Jejaknya dapat terlihat pada gigi bungsu yang datang paling terakhir di mulut kita. Gigi ini awalnya sangat membantu nenek moyang kita yang makan makanan keras dan tidak dimasak yang menggerus gigi mereka  – anehnya, gigi bungsu ini kemunculannya tetap terpelihara hingga sekarang ketika hampir semua makanan yang dikonsumsi manusia dimasak terlebih dulu.



Homo erectus mengembangkan tulang rusuk dan panggul yang lebih sempit, usus besar yang lebih pendek, dan usus kecil yang lebih panjang. Ini membuat usus manusia purba mengecil dan mempercepat proses pencernaan makanan. Usus yang lebih pendek memungkinkan lebih banyak energi untuk dialihkan dari usus ke organ-organ penting tubuh lainnya, seperti otak.

Para ilmuwan telah menemukan bahwa laju aliran darah menuju otak mungkin merupakan indikasi kemampuan kognitif yang lebih baik daripada ukuran dari otaknya saja.

dari University of Adelaide, mengatakan: “Antara Ardipithecus yang berusia 4,4 juta tahun dan Homo sapiens, otak menjadi hampir lima kali lebih besar, tetapi laju aliran darahnya bertambah besar sembilan kalinya. Ini menunjukkan bahwa setiap gram materi otak memerlukan energi hampir dua kali lipatnya, yang sudah jelas karena aktivitas sinaptik yang lebih besar dan pemrosesan informasinya.”

Nampaknya ini masuk akal dan dapat dikaitkan dengan perkembangan otak manusia. Sejalan dengan yang diungkapkan oleh dari Vanderbilt University, dalam tullisannya:

“Jika orang terus mengonsumsi makanan mentah, seperti primata lainnya, mereka perlu menghabiskan lebih dari sembilan jam setiap hari untuk mencari, mengumpulkan, memetik, dan makan untuk memberi asupan energi terhadap 16 miliar neuron kortikal mereka. Lupakan menemukan listrik atau membangun pesawat terbang. Tidak akan ada waktu untuk melihat bintang-bintang dan bertanya-tanya tentang apa yang mungkin terjadi. Sepupu kera besar kita, selalu menyenangi kuliner mentah, masih memiliki paling banyak setengah neuron kortikal seperti kita – dan mereka makan lebih dari delapan jam per hari.”



1 KOMENTAR