BAGIKAN
Para peneliti ITB bekerja sama dengan penduduk desa Karangjaladri untuk membangun tanggul laut ramah lingkungan terbuat dari sabut kelapa. [Susanna Nurdjaman/ITB]

Tahukah Anda bahwa sabut kelapa bisa dimanfaatkan sebagai pelindung pesisir pantai dari erosi dan abrasi air laut?

Daerah pesisir di Indonesia, yang juga menjadi tempat kegiatan ekonomi dan pemukiman warga, kini berada di kondisi kritis.

Tidak hanya akibat aktivitas manusia, seperti pembabatan hutan bakau, penambangan pasir, hingga pembangunan infrastruktur namun juga akibat dari perubahan iklim.

Perubahan iklim dapat mempengaruhi daerah pesisir hingga menghadapi berbagai masalah, mulai dari naiknya permukaan air laut, suhu laut, hingga menimbulkan gas emisi rumah kaca. Ditambah lagi, erosi di daerah pesisir, banjir, hingga polusi air.

Oleh karena itu, perlindungan daerah pesisir seharusnya menjadi salah satu prioritas mitigasi perubahan iklim.

Pemandangan Aerial dari pantai Panggandaran, salah satu pantai di Indonesia yang rentan terhadap abrasi karena gelombang laut yang tinggi. (Susanna Nurdjaman/ITB)

 

Umumnya, perlindungan daerah pesisir dari erosi menggunakan struktur material yang keras (hard structure), seperti tanggul laut yang terbuat dari beton, pemecah gelombang, groin (bangunan yang dibangun menjorok ke arah laut), jetty (jalanan yang dibuat mengarah ke laut), dan lainnya.

Namun, material alami seperti terumbu karang, hutan bakau, atau rumput laut juga dapat melindungi daerah pantai dari gelombang tinggi, atau disebut sebagai soft structure yaitu struktur material yang lunak/dari bahan alam.

Tanggul laut yang terbuat dari material yang keras masih terlalu mahal bagi penduduk setempat dan pemerintah daerah masih belum memprioritaskan dana mereka untuk pembangunan ini.

Oleh karena itu, kami – saya dan lima rekan kerja saya di Program Study Oseanografi,Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung – memodifikasi sabut kelapa untuk menjadi bahan alternatif untuk tembok laut. Modifikasi ini terinspirasi oleh cara penyelamatan pesisir pantai yang dilakukan di daerah pesisir di Amerika Serikat.

Proyek pertama kami bermula di desa Karangjaladri, kabupaten Pangandaran, sekitar 6 jam perjalanan dari kota Bandung, ibukota provinsi Jawa Barat.

Desa Karangjaladri berada di dekat pantai, namun tidak memiliki perlindungan di pesisir ketika kami datang pada tahun 2017. Padahal, area tersebut rentan terhadap abrasi karena gelombang laut yang tinggi dari Samudera Hindia.

Tim dari Program Study Oceanography ITB berkunjung ke desa Karangjaladri pada tahun 2017 dan menawarkan solusi ramah lingkungan untuk tembok laut, di tahun berikutnya. (Susanna Nurdjaman/ITB)

 

Tahun 2018, kami kembali dan mengajak warga sekitar untuk membangun tanggul laut yang terbuat dari sabut kelapa, material yang murah dan dapat terurai, yang banyak ditemukan di daerah tersebut.

Karena sifatnya yang organik, tembok laut dari sabut kelapa dapat berubah menjadi “sabuk hijau” pantai untuk membantu melestarikan ekosistem laut.

Dinding laut dari sabut kelapa

Indonesia adalah negara dengan garis pantai ketiga terpanjang di dunia dengan panjang 54.720 kilometer. Kanada dan Norwegia menempati urutan pertama dan kedua.

Namun, wilayah pesisir di kepulauan Indonesia berada di kondisi yang buruk akibat kegiatan manusia, seperti penambangan pasir dan terumbu karang, pembabatan mangrove, hingga pemukiman warga yang melewati garis pantai.

Pada November 2018, dengan bantuan dari penduduk desa Karangjaladri di pantai Pangandaran, kami dapat membangun tembok laut berbahan sabut kelapa dengan panjang 20 meter.

Sebelumnya, kami menggulung sabut kelapa, yang disatukan dengan material ramah lingkungan lainnya, seperti karung goni, diikat dengan tali dari jaring nelayan sepanjang 5 hingga 10 meter, hingga menjadi seperti gulungan karpet dengan ukuran diameter 25-50 cm.

Kami menghindari musim hujan barat dan musim hujan timur ketika memasang tembok laut tersebut, karena kedua musim ini memiliki angin kencang yang akan membuat sulit untuk memasang jaring.

Kami juga mempertimbangkan pola angin, ketinggian gelombang laut, arah dan arus laut untuk dapat memasang dinding laut sabut kelapa di garis pantai tanpa gangguan.

Meski ramah lingkungan, dinding laut dari sabut kelapa ini tentu saja masih memiliki kelemahan. Kemampuannya terbatas untuk menghadang gelombang laut yang jauh lebih kuat. Hal ini bukan masalah bagi dinding laut terbuat dari beton.

Oleh karena itu, kita perlu memasang pasak kayu dengan benar agar tidak terseret gelombang.

Perlindungan ekosistem Laut

Walaupun ada banyak cara mitigasi untuk abrasi, pendekatan yang ramah lingkungan dapat dijadikan sebagai pilihan alternatif yang murah.

Bahan baku untuk membangun dinding laut yang dapat terurai, seperti yang terbuat dari sabut kelapa, adalah cara yang murah dan mudah ditemukan di daerah pesisir apalagi di Indonesia.

Kami juga menggunakan kembali jaring bekas nelayan sekitar untuk mengurangi biaya. Ketimbang menumpuk sabut kelapa menjadi sampah, lebih baik dikumpulkan dan dijadikan sebagai bahan dasar untuk dinding laut.

Sabut kelapa, karung goni dengan bahan murah lainnya digulung seperti bantal kemudian ditumpuk untuk dijadikan media tumbuh bagi tanaman. Tanaman ini akan berubah menjadi taman tanaman laut. (Susanna Nurdjaman / ITB)

 

Jadi, selain melindungi daerah pesisir pantai, kami juga memanfaatkan limbah organik.

Belum ada penilaian terhadap daya tahan tembok laut yang terbuat dari sabut kelapa ini. Namun, tembok laut ini tidak murni terbuat dari serat kelapa. Serat kelapa yang kami gunakan dipakai juga sebagai media tumbuh untuk tanaman. Jadi setelah sabut kelapa terurai, dia memiliki akar kuat dan menjadi sabuk hijau yang melindungi pantai.

Gagasan dari proyek percontohan ini adalah untuk mendorong masyarakat setempat untuk menggunakan bahan sehari-hari untuk melindungi daerah mereka.

Alih-alih menunggu pemerintah membangun tembok beton miliaran rupiah, yang lebih sering menjadi prioritas pemerintah, warga desa dapat memasang sendiri.


Susanna Nurdjaman, Lecturer of Oceanography Department, Faculty of Earth Sciences and Technology, Institut Teknologi Bandung

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.