BAGIKAN
[Roman Klementschitz]

Naked mole rat atau dikenal dengan tikus mondok telanjang merupakan hewan pengerat yang berasal dari Afrika Timur. Dengan nama latin Heterocephalus glaber, hewan ini dikenal karena “kekuatan” dan keunikan yang menarik perhatian para ilmuwan.

Hewan pengerat ini berhabitat di bawah tanah dengan kadar oksigen yang sangat kecil. Bagi hewan ini, kebutuhan oksigen bukanlah kebutuhan utama mereka untuk bisa hidup. Hewan ini diketahui mampu hidup dalam lingkungan dengan kadar oksigen rendah hingga lima persen.

Para peneliti belum lama ini berhasil mengungkap salah satu kelemahan dari makhluk ini, mereka hanya bisa bertahan pada lingkungan dengan kadar karbondioksida yang tinggi. Mereka akan kejang ketika kekurangan karbondioksida.

Penelitian yang dilakukan sebelumnya telah mengungkap kemampuan makhluk ini untuk bertahan hidup tanpa oksigen dan hidup dalam lingkungan dengan kadar karbondioksida tinggi. Dan penelitian terbaru ini juga menemukan bahwa karbondioksida adalah kunci Kesehatan    dan kekuatan makhluk ini.

Para peneliti meyakini bahwa ketergantungan hewan ini pada CO2 mungkin disebabkan karena terjadinya mutasi genetik pada sebuah gen pada makhluk ini. Dan dengan penemuan ini diharapkan nantinya akan membantu penelitian untuk menemukan terapi pengobatan untuk manusia yang menderita gejala kejang atau kondisi neurologis lainnya yang sejenis.

“Makhluk ini justru terlihat kuat dan sehat di dalam sarangnya yang sempit, dan komposisi udara diatas permukaan dari liang sarang mereka yang bertemperatur panas di wilayah Afrika membuat mereka lemah dan kejang,” kata neuroscientist Dan McCloskey, dari City university of New York (CUNY). “Itulah yang akan terjadi apabila tikus mondok telanjang kekurangan karbondioksida.”

Ketergantungan tikus mondok telanjang untuk selalu berada di dekat sarangnya, bergerombol dengan sesamanya di dalam liang bawah tanah (dikenal dengan eusociality) telah diketahui dari penelitian sebelumnya. Diperkirakan tingginya kadar karbondioksida di sarang mereka di bawah tanah membantu merelaksasi otak mereka.

Dan ketika tikus ini mencapai permukaan tanah yang kaya dengan oksigen segar, aktivitas otak mereka mulai berpacu dengan sangat cepat sehingga dapat memicu terjadinya kejang. Karena kondisi ini, tikus mol telanjang tidak akan berada jauh dari sarang mereka di bawah tanah.

Para peneliti kemudian menemukan penyebab hewan ini sangat tergantung pada CO2, sebuah varian genetis yang diberi nama R952H, yang mempengaruhi protein KCC2 yang berperan mengatur jumlah klorida di neuron otak.

Karena KCC2 tidak berfungsi dengan normal, klorida pada otak juga tidak bisa menjalankan fungsinya, untuk menenangkan neuron. Kondisi ini akan menyebabkan otak tikus mondok telanjang menjadi bekerja terlalu keras dan akan berhenti bekerja secara tiba-tiba.

“Dan ditemukannya perubahan genetis protein KCC2 pada tikus mondok telanjang tentu saja mengejutkan.” Kata neuroscientist Martin Puskarjov, dari University of Helsinki, Finlandia.

Para peneliti menghubungkan perubahan genetis tersebut pada otak manusia, apa yang mereka ketahui tentang tikus mondok telanjang ini bisa diaplikasikan untuk menangani manusia yang menderita penyakit dengan gejala kejang. Diketahui pada manusia yang mengalami gejala kejang ternyata mengalami proses mutasi genetis yang sama.

Manusia memiliki varian KCC2 yang sama dengan yang ditemukan pada tikus mol telanjang akan rentan mengalami gejala kejang, dan varian yang sama juga ditemukan pada orang-orang yang dengan epilepsi, schizophrenia dan autism.

Hasil uji coba dengan menggunakan obat anti kejang diazepam justru menyebabkan timbulnya gejala kejang pada tikus mol telanjang. Dan Fakta ini mendukung dugaan bahwa hewan ini menggunakan kelebihan karbondioksida di atmosfer untuk mengatasi ketidakseimbangan klorida di otak karena kehadiran protein R952H.

Penelitian ini telah dipublikasikan dalam Current Biology.

VIAAdell
SUMBERScienceAlert
BAGIKAN