BAGIKAN
(Purdue Research Foundation)

Dari semua plastik yang diproduksi selama 65 tahun terakhir, sekitar 12 persen telah dibakar dan hanya 9 persen yang telah didaur ulang. Sisanya 79 persen telah pergi menuju tempat pembuangan sampah atau lautan.

Dan jika saja sampah-sampah plastik terus dibiarkan mengotori badan air, maka The World Economic Forum memprediksi bahwa pada tahun 2050 lautan akan dipenuhi oleh limbah plastik ketimbang ikan untuk dikonsumsi.

“Plastik-plastik ini terdegradasi secara perlahan dan melepaskan mikroplastik dan bahan kimia beracun ke dalam tanah dan air. Ini adalah malapetaka, karena begitu polutan ini ada di lautan, mereka tidak mungkin dapat diambil sepenuhnya.” kata Linda Wang dari Purdue Unversity.

Tergerak oleh polusi limbah plastik di lautan, air tanah, dan lingkungan, dan dalam salah satu upayanya untuk menangani pencemaran limbah plastik, para ilmuwan telah berhasil dalam mengubah lebih dari 90 persen limbah plastik polyolefin menjadi berbagai produk yang berbeda, termasuk polimer murni, nafta, bahan bakar, atau monomer. Bahkan tim ilmuwan yang berasal dari Pudue University ini sedang mengoptimalkan proses konversinya sehingga dapat menghasilkan bahan bakar bensin atau solar yang berkualitas tinggi.

Proses konversi menggabungkan ekstraksi selektif dan pencairan hidrotermal. Setelah plastik diubah menjadi nafta, dapat digunakan sebagai bahan baku untuk bahan kimia lainnya atau selanjutnya dipisahkan menjadi pelarut khusus dan berbagai produk lainnya.

Linda Wang dengan bahan bakar dari limbah plastik (Purdue Research Foundation image / Vincent Walter)

Plastik polipropilen dikonversi menjadi minyak menggunakan air yang dipanaskan pada suhu 500 °C dan tekanan lebih dari 225 atmosfer selam 0,5-6 jam. Dalam kondisi ini, air yang disebut juga sebagai ‘air superkritis‘, dapat bertindak sebagai campuran pelarut dan katalis untuk menggabungkan kembali molekul make-up polimer plastik, mengubah plastik menjadi cairan rantai hidrokarbon panjang menengah yang disebut naphtha dengan bantuan atom hidrogen yang disumbangkan.

Hingga 91% berat polipropilen dikonversi menjadi minyak pada suhu 450 °C selama 1 jam. Suhu reaksi yang lebih tinggi atau waktu reaksi yang lebih lama menyebabkan lebih banyak menghasilkan gas.

Bahan bakar bersih yang berasal dari limbah poliolefin yang dihasilkan setiap tahun dapat memenuhi 4 persen dari permintaan tahunan untuk bahan bakar bensin atau solar.

Wang mengatakan teknologi itu dapat mengubah hingga 90 persen dari plastik poliolefin.

Wang mengatakan dia berharap teknologinya akan merangsang industri daur ulang untuk mengurangi jumlah sampah plastik yang meningkat pesat. Dia dan timnya mencari investor atau mitra untuk membantu mendemonstrasikan teknologi ini pada skala komersial.

Penelitian ini dipublikasikan di ACS Sustainable Chemistry and Engineering.