BAGIKAN
[ Credit: UC Biology]

Dalam upayanya untuk bertahan hidup dan meneruskan keturunannya, setiap organisme telah mengembangkan strategi dan adaptasi sesuai dengan habitat di mana mereka tinggal, misalnya dengan perubahan yang terjadi pada bentuk tubuh atau kebiasaan yang tidak ditemukan pada organisme lainnya. Termasuk bagi spesies agas tanpa sayap yang hidup di tempat dengan iklim ekstrem seperti Antartika yang telah dipelajari oleh Joshua Benoit, dari University of Cincinnati.

Ia menemukan bagaimana satu-satunya serangga sejati Antartika ini dapat bertahan dari kebekuan dan pencairan es yang terjadi secara terus menerus, sehingga serangga kecil ini dianggap telah memiliki adaptasi yang mengejutkan untuk hidup di sebuah dunia yang teramat dingin.

Benoit dan murid-muridnya telah mempresentasikan temuan mereka di konferensi Society for Integrative and Comparative Biology di Tampa, Florida.

Belgica Antartika adalah sejenis serangga agas yang tidak bisa terbang dan satu-satunya hewan daratan terbesar yang ditemukan di Antartika.

Pada titik tertentu dalam evolusinya, serangga kecil ini telah  kehilangan sayapnya yang dimungkinkan untuk mengatasi badai  Antartika yang terkenal mematikan. Karena hewan ini umumnya memakan ganggang dan tidak pernah melakukan perjalanan jauh dari tempat di mana ia telah ditetaskan dari telurnya, jadi tidak perlu memiliki sayap untuk terbang untuk menjangkau tempat yang lebih jauh.

Untuk proyek terbarunya ini, Benoit meneliti mekanisme molekuler yang mendasari reproduksi serangga ini. Seperti serangga lainnya, agas yang telah dewasa melakukan perkawinan selama musim panas Antartika yang singkat. Setelah betinanya bertelur, kemudian menetas setelah sekitar 40 hari selanjutnya. Kemudian lalat yang baru lahir menghabiskan dua tahun berikutnya berkembang sebagai larva, terkubur hampir sepanjang tahun di dalam es.

[Serangga tak bersayap sedang melakukan perkawianan. Credit : UC Biology]
Hanya dalam minggu terakhir dari kehidupannya, serangga ini melebarkan sayapnya, sehingga dapat dikatakan telah dewasa yang telah terbentuk secara sepenuhnya. Lalu mati hanya beberapa hari setelah melakukan perkawinannya.

Para ilmuwan menyebut serangga ini sebagai “ekstremofil” karena kemampuannya untuk bertahan hidup dalam kondisi ekstrem.

“Bisa jadi tinggal di ketinggian gunung – yang ekstrem. Atau tinggal di lingkungan yang sangat asin,” katanya.

Beberapa makhluk dapat selamat dari kondisi Antartika yang tidak bersahabat, kata Benoit. Benua ini adalah rumah bagi sejumlah organisme kecil seperti tungau dan nematoda. Kemampuan dari serangga kecil ini untuk menahan dingin dan dehidrasi yang membuatnya menjadi ekstremofil dari proporsi Olimpiade.

Para ilmuwan tahu bahwa larva agas tetap terlindung dari sinar terburuk matahari Antartika yang menyilaukan dan bertahan dari suhu dingin dengan tetap berada di bawah lapisan pelindung lumut dan tanah. Di tempat ini suhu dan kelembapannya relatif konstan.

[Profesor biologi UC Joshua Benoit telah berpartisipasi dalam tiga ekspedisi ilmiah untuk mempelajari satwa liar endemik Antartika. Credit: Joshua Benoit / UC]
Tetapi selama musim panas Antartika, suhu harian dapat melonjak hingga 40-an dan dingin di bawah titik beku. Para peneliti University of Cincinnati ingin tahu bagaimana telur agas mentolerir perubahan suhu yang begitu ekstrim ini.

“Betina mengeluarkan semacam gel bening di sekitar telurnya. Pada dasarnya, ini seperti antibeku,” kata penulis studi Geoffrey Finch dari University of Cincinnati. “Ini bertindak sebagai penyangga suhu terhadap fluktuasi yang terjadi sehingga membantu mereka dalam bertahan hidup.”

Gel juga membantu telur dalam bertahan dari fitur iklim lain yang khas dari Antartika – kekeringannya. Antartika adalah rumah bagi gurun terbesar di dunia. Belgica dapat bertahan hidup bahkan setelah kehilangan lebih dari 70 persen kandungan airnya. Sebagai perbandingan, penelitian telah menemukan bahwa manusia mulai menderita gangguan kognitif ketika kehilangan hanya 2 persen dari kandungan airnya dikarenakan dehidrasi.

“Jadi memiliki semua adaptasi unik inilah yang memungkinkan mereka untuk hidup di lingkungan ekstrem ini,” kata Benoit.

SUMBERUniversity of Cincinnati
BAGIKAN